⬅ Kembali ke Beranda

Terpikat barang jumbo (Bagian 1)

Cover Cerita
Terus terang, tak pernah aku, Bu Rina, berpikir bisa berbuat seperti ini sebelumnya. Di kalangan masyarakat komplek perumahan mewah yang kutinggali ini, aku dikenal sebagai perempuan solehah yang alim dan terhormat. Aku selalu aktif di pengajian ibu-ibu, memakai jilbab panjang yang tersampir rapi sampai pinggang dan jubah panjang longgar yang nutupin seluruh tubuhku yang sintal. Kulitku putih mulus kayak susu, payudara 36B yang montok kencang, pantat bulat kenyal, dan wajahku katanya mirip artis Indonesia yang lagi hits—bibir tebal merah alami, mata sipit genit. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Budi yang 38 tahun, ganteng, tinggi, dan punya jabatan tinggi sebagai insinyur sekaligus manager di perusahaan konstruksi besar. Tapi kontol Mas Budi biasa-biasa aja, cuma 12 cm kalau lagi ngaceng keras, lemes, dan dia jarang ngewe lama—paling cuma 5 menit lalu langsung muncrat dan tidur. Sejak 5 tahun nikah, kami belum dikaruniai anak. Aku sering colmek memekku sendiri di kamar mandi sambil merasa bersalah berat, lalu berusaha melupakan.



Suatu hari, karena ada sedikit gangguan kesehatan—perut mules dan kepala pusing—aku pergi berobat ke klinik posyandu kecil yang terletak di pinggir komplek perumahan, dekat pintu gerbang utama. Klinik itu gedung satu lantai sederhana berwarna kuning pudar, dengan ruang tunggu terbuka yang penuh bangku plastik biru jelek berderet-deret, dindingnya penuh poster vaksinasi bayi dan KB, bau obat antiseptik yang menyengat campur keringat orang banyak. Mas Budi lagi tugas keluar kota selama seminggu ke Balikpapan, jadi aku sendiri naik angkot yang berhenti tepat di depan gerbang. Aku pakai jubah panjang putih bersih yang nutupin lutut dan jilbab merah muda panjang yang lembut tersampir sampai pinggang, kelihatan sopan banget di mata orang-orang. Ruang tunggu sudah penuh ibu-ibu dan anak kecil yang ribut, tapi aku santai aja duduk di pojok, kaki menyilang sambil baca majalah kesehatan lama.



Setelah nunggu hampir satu jam, memekku tiba-tiba gatal parah pengen kencing—mungkin karena aku minum air banyak tadi pagi. Aku berdiri, lewat lorong panjang klinik yang sempit dan agak gelap, lantainya keramik putih yang licin karena baru dipel, lampu neon berkedip-kedip di langit-langit, dan dindingnya ada plang toilet cowok dan cewek di ujung. Tanpa sengaja, saat melewati deretan pintu toilet lelaki yang sebagian menganga, mataku melirik ke satu pintu yang terbuka lebar. Aduh, jantungku langsung berdegup kencang kayak mau copot! Di situ ada seorang cowok lagi berdiri kencing di kloset jongkok, celananya diturunin sampai lutut, dan kontolnya... ya Tuhan, gede banget! Belum ngaceng aja udah panjang dan tebal kayak pisang tanduk mateng, kepalanya gede mengkilap ungu kemerahan, belum disunat jadi kulitnya longgar, dan pancuran air kencingnya kuat menyembur ke dinding kloset dengan bunyi “psssst” yang jelas. Aku langsung basah memekku, cairan bening lengket mengalir deras di celana dalamku sampe basah paha dalam. Aku tertegun lama di depan pintu, mata melotot lebar, napas ngos-ngosan, bayangin kontol itu ngebor memekku sampe robek dan bikin aku jerit-jerit. Cowok itu nengok tiba-tiba, liat aku, dan sengaja goyang-goyang kontolnya yang masih kencing itu sambil nyengir mesum lebar. Aku cepat melengos, tapi memekku udah banjir parah. Sepanjang nunggu panggilan dokter di ruang tunggu yang panas dan bau keringat itu, aku cuma bisa bayangin kontol itu ngentot memekku kasar di lorong gelap, sambil tanganku memilin puting susu yang udah keras di balik jubah putih. Aku pulang dengan memek gatal tak tertahankan, malamnya di kamar tidur yang sepi—ranjang king size dengan seprai putih bersih dan foto pernikahan kami di dinding—aku colmek memekku tiga kali berturut-turut sambil bisik-bisik mesum, “Kontol gede... entot memekku... tapi aku solehah, ini salah... ahh sialan, aku haus kontol kuli!”



Dua hari kemudian, aku lagi nyiram bunga-bunga di halaman depan rumah kami yang luas—halaman kecil berpagar besi hitam, tanahnya ditanami mawar merah, melati putih harum, dan rumput hijau yang baru dipotong, matahari siang panas menyengat kulit. Aku pakai jilbab hitam panjang yang rapi dan jubah rumah tipis warna krem yang agak ketat di dada. Tiba-tiba terdengar suara Bang Joko, tukang kebun tetap rumah kami yang datang dua kali seminggu untuk memangkas rumput, menyiram tanaman, dan membersihkan taman. “Bu Rina, hari ini saya potong rumput dan pupuk tanaman ya!” Suaranya khas, serak dan berat. Aku langsung ingat, dia lelaki yang sama dari klinik! Jantungku berdegup kencang, memekku langsung berdenyut basah lagi. Aku berusaha tenang, pura-pura sopan. “Bang Joko... iya, kamu kerja aja di kebun seperti biasa. Saya lagi sibuk di dalam.”



Tapi Bang Joko masuk lewat pintu samping rumah sambil bawa tas peralatan, matanya langsung menatapku tajam. “Bu Rina... saya lihat Ibu di klinik kemarin. Ibu yang ngintip kontol saya waktu saya kencing di toilet cowok, kan? Hehe, mata Ibu melotot banget kayak mau telan kontol saya hidup-hidup. Ibu solehah kok suka lihat kontol kuli kebun ya?”



Aku langsung panik berat, wajahku memucat. “Bang Joko! Apa sih kamu bicarakan?! Jangan ngomong sembarangan! Aku istri solehah, aku perempuan terhormat di komplek ini! Pergi sekarang juga dari rumah saya! Kerja kebun di luar sana saja, jangan masuk ke sini!” Aku mundur ke belakang sofa ruang tamu, tanganku gemetar siap dorong pintu keluar.



Bang Joko ketawa mesum dan malah mendekat cepat ke ruang tamu, langsung buka resleting celananya di depanku. “Wah wah, Bu solehah ternyata pura-pura ya? Nih, liat sendiri kontol monster saya yang Ibu intip di klinik. Besar kan? Lebih gede dari kontol suami manager Ibu yang lemes itu, perek berjilbab murahan!”



Dia keluarin kontolnya yang langsung ngaceng keras kayak tiang bendera, tebal kayak botol Aqua, panjang 20 cm lebih, urat-uratnya menonjol biru, kepalanya gede mengkilap bening penuh lendir, bau lelaki pekat menusuk hidungku sampe memekku menetes lagi di lantai ruang tamu.



Aku mundur ketakutan, tanganku gemetar nutup mulut sambil menjerit. “Tidak Bang! Tutup itu sekarang juga! Aku nggak mau! Ini dosa besar! Aku istri setia, aku solehah! Keluar dari rumah saya atau aku teriak panggil tetangga!” Aku coba dorong dadanya keras, tangan kananku menampar pipinya, kaki kiriku menendang tulang keringnya. “Lepas! Aku mohon... jangan rusak kehormatanku... aku punya suami... Aku teriak ya! Tolong! Ada orang di sini!” Air mata menggenang di mata, tubuhku gemetar hebat, aku berusaha lari ke pintu depan sambil teriak-teriak kecil.



Bang Joko tersenyum licik, matanya penuh nafsu kuasa. Dia cepat pegang pergelangan tanganku kuat-kuat, tarik tubuhku ke belakang, lalu angkat aku seperti karung beras

Rating Cerita: ⭐ 0 / 5 (0 Suara)

Beri nilai untuk cerita ini: