⬅ Kembali ke Beranda
ku geprek tetangga ku
(Bagian 2)
yang jenjang sambil berbisik, “Kamu cantik sekali, Aisy… solehah di luar, tapi tubuhmu ini menggoda sekali.” Kemudian kurebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dasternya sudah tersingkap sebatas perut. Terlihat buah dada Aisyah yang membusung indah. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin sekitar 34, tapi bentuknya bulat dan padat berisi seperti buah yang matang. Perlahan aku mulai mengulum kedua bukit tersebut secara bergantian. Putingnya yang kecokelatan kujilati sambil sesekali kuhisap lembut. Aisyah memejamkan matanya dan mulai mendesah pelan, “Aghh… Mas… ini… haram… tapi… enak sekali… jangan berhenti ya Mas…” Tangannya berpegangan pada ujung sofa. Sementara tubuhnya terus bergeliat malu-malu, hijabnya tetap terpasang rapi.
Desahannya yang malu-malu membuatku makin lahap mengulum buah dadanya. Tangan kiriku bergerilya menuju selangkangannya. Kumasukkan jariku di antara celana dalamnya dan kugesek-gesekkan di permukaan vaginanya yang sudah mulai basah. “Agh.. Mas Reza.. aghh… sshssh.. jangan… Aisyah malu… tapi tangan Mas enak sekali…” rupanya dia terangsang dengan permainanku meski masih berusaha menolak demi kesolehannya. Kuhentikan kulumanku di buah dadanya. Sejenak aku kembali mengulum bibirnya sementara tangan kiriku tetap menggesek-gesek vaginanya. Aisyah semakin larut dalam permainan ini. Ciumannya pun menjadi lebih memburu. Aku pun mulai melepas celana dalamnya perlahan. Kemudian aku turun menciumi seluruh bagian tubuhnya hingga sampailah aku di depan lubang vaginanya yang sudah basah di sofa ruang tamu. Terlihat bibir vaginanya yang sempit ditumbuhi sedikit rambut halus. “Mas Reza mau apa…? Ini… dosa besar… tapi Aisyah sudah basah banget…” ujarnya lirih sambil tangannya mencoba menutup kakinya.
Aku tidak menjawab. Bibirku mulai menciumi bibir vaginanya yang sempit itu. Kemudian kujilati seluruh permukaannya. Sekali-kali lidahku menusuk agak dalam menjangkau klitorisnya. Kemudian kugigit kecil klitorisnya. Aisyah terlihat sangat terangsang meski masih berbisik “Mas… enak sekali lidah Mas…” Dia merintih sambil berkali-kali memajukan vaginanya ke depan agar lidahku makin dalam menjangkau klitorisnya. “Aghh…. hahh… hahh…. enak Mas.. aghh… terus Mas.. shhh.. tapi ini salah… Aisyah mau lebih dalam lagi…” Cukup lama aku bermain dengan vaginanya di ruang tamu. Sementara penisku semakin mengeras. Kira-kira sepuluh menit Aisyah mulai orgasme pertama kali dalam hidupnya. “Aghhhhhhhhh….. Aisyah keluarrrrr!” Cairan putih kental keluar dari vaginanya. Napasnya tersenggal-senggal, hijabnya tetap terpasang meski miring sedikit karena geliatannya.
Aku yang masih berpakaian lengkap langsung membuka seluruh pakaianku di ruang tamu. Aku telanjang bulat dengan penis yang sudah menegang sedari tadi, ukurannya 15 cm dan tegang sempurna. Aisyah terpaku melihatnya, matanya lebar karena campuran takut dan penasaran. “Mas… itu… besar sekali… Aisyah takut…” Karena aku sudah sangat bernafsu, maka aku langsung mengarahkan penisku yang berukuran 15 cm itu ke lubang vaginanya di sofa. Kulebarkan selangkangannya sehingga terlihat lubang itu sudah siap menanti untuk ditusuk. Aisyah terlihat diam saja dan menunggu penetrasiku sambil berbisik doa, hijabnya masih rapi. “Aisyah diam ya.. agak sakit sedikit di awal..” kataku sambil mengelus pahanya dan mencium keningnya di atas hijab. Perlahan ujung penisku mulai menusuk. Aisyah meringis keras, “Ah… sakit Mas.. pelan-pelan… tapi enak juga…” Aku mengelus buah dadanya agar Aisyah bisa merasakan rangsangan seksual pada bagian tubuhnya yang lain. Penisku pun mulai menusuk makin dalam. “Ah… sakit Mas.. tapi… ada enaknya… tusuk lebih dalam Mas… Aisyah sudah basah banget…”
Aku mulai mencium bibirnya agar dia bisa melupakan rasa sakitnya sedikit. Penetrasi kuhentikan sejenak dan aku konsentrasi menciumi bibirnya sambil berbisik, “Kamu gadis solehah tapi vaginamu basah sekali, Aisyah…” Setelah Aisyah terlihat hanyut, aku mulai melanjutkan kembali penetrasi. Perlahan-lahan penisku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Kurasakan otot vaginanya memijat pelan pangkal penisku. Sambil tetap kukulum bibirnya, kugoyangkan pinggulku perlahan-lahan di sofa ruang tamu. Naik turun makin lama makin cepat. Aisyah terlihat mulai menikmati gesekan penisku di vaginanya. Aku segera mempercepat goyangan pinggulku. Terasa nikmat sekali. Seluruh permukaan vaginanya yang sempit habis dijelajahi penisku. Penisku terasa seperti diurut-urut. Kadang agak sepet kadang licin. Ceplak.. cplak… cplak… cplak. Terdengar suara dari bagian bawah. Sementara Aisyah terlihat terengah-engah. Matanya memejam dan bibirnya mendesah tak karuan. “Aghh.. enak sekali Mas…. terussss shhhhhh… terusss… ahhhh… ahhhh. aahhhhh…. !!! Tusuk lagi Mas… Aisyah minta lagi… ini zina tapi enak banget… Aisyah mau di entot lebih keras!”
“Aduh Aisyah… vaginamu… enak sekali. Aghh.. shhhh… sempit…. Enak… ahhhh.. ahhhh…..” Kataku di sela desahannya. Aisyah merem melek dan berkali-kali menggigit bibirnya di antara desahan-desahannya. Tiba-tiba kurasakan otot vaginanya semakin keras menjepit. “Mas akuuu mauuu orgasme lagi… entot Aisyah terus Mas!” Aku sadar dia mau orgasme kembali. Kupercepat ayunan pinggulku sambil kuangkat pantatnya sedikit ke atas di sofa. Dia mulai menggelinjang hebat. “Aghhhhh Mas… aaaahhhhggghhhh… Aisyah mau di entot lagi setelah ini!” teriaknya di ujung orgasmenya.
Aku berhenti menggoyang. Kubiarkan penisku di dalam vaginanya. Terlihat Aisyah sangat menikmati orgasmenya. Wajahnya tersenyum puas meski penuh air mata dosa. Aku yang belum orgasme mencabut penisku dari vaginanya. Kuminta Aisyah untuk berbalik dan menungging di sofa ruang tamu. Dia pasrah menuruti meski gemetar. Terlihat pantatnya yang montok menantang. Dari sini vaginanya terlihat lebih sempit. Kembali kumasukkan penisku dari belakang. Kali ini terasa lebih mudah. Aisyah pun tidak meringis lagi. Penisku perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya. Kemudian mulai kugoyangkan pinggulku maju mundur. Gesekan vaginanya terasa lebih sempit dibandingkan sebelumnya. Pantatnya yang montok kuremas-remas keras. Aisyah kembali mendesah, “Aduh… ahh… ahhh… iya Mas… entot Aisyah keras-keras… Aisyah minta di entot lebihnkeras!” Perlahan tanganku merayap menuju buah dadanya yang bulat menggantung. Kemudian kuremas-remas dengan nafsu. Aisyah tambah terangsang dengan hebat. Desahannya makin tidak teratur. Aku pun makin bernafsu. Goyangan pinggulku makin cepat. Napas kami sama-sama memburu. Remasan tanganku di buah dadanya makin keras. Kugigit telinga dan bahunya dari belakang. Secara refleks Aisyah membalikkan wajahnya dan mencium bibirku. Kami terus berpagutan. Goyangan pinggulku makin cepat.
“Aghhhhh… aghhhh.. shhhh… hhhhhhahhgghh.. iyyyaaa…” kurasakan aku akan orgasme. aku mencabut penisku dan menggesek-gesekkan di antara pantatnya yang montok. Gesekan penisku semakin cepat dan akhirnya aku ejakulasi ahhhhhhh…. ahhhh… Crooot… Croooot.. Crooot…. air maniku muncrat dengan hebatnya di atas punggung Aisyah yang masih berhijab. Aku terkulai dan langsung duduk sambil meremas-remas pantat Aisyah yang seksi sambil berbisik, “Kamu sekarang milik aku, Aisy.” Aisyah terkulai dengan posisi telungkup. Kulap punggungnya dengan celana dalamnya. Kulihat Aisyah tersenyum lemah sambil berkata, “Mas… Aisyah mau lagi nanti… entot Aisyah lagi ya.” Aku memeluknya dan mencium keningnya di atas hijab. “Aku sayang kamu, Aisy..” bisikku. Aisyah tersenyum malu.
Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)