⬅ Kembali ke Beranda
Janda sombong
(Bagian 2)
sempitnya, jilat dinding dalam yang hangat dan berkerut. “Memek janda murahan ini sudah basah banget. Katanya suci, ternyata kepanasan juga ya? Dua tahun nggak diisi kontol, sekarang banjir sendiri.”
Bu Nadia menggoyang pinggulnya sendiri ke muka saya, memeknya menggesek hidung dan dagu saya. Cairannya membanjiri wajah saya. Dia mengisap kontol saya lebih gila, tenggorokannya menelan dalam-dalam meski tersedak.
Saya tampar pantatnya yang bulat keras. **PLAAAK!** “Jangan berhenti jilat kontolku, anjing!”
Setelah dia orgasme pertama kali di muka saya — tubuhnya mengejang hebat, memeknya menyemprot cairan hangat ke mulut saya — saya dorong dia telentang di meja kerja. Kaki saya buka lebar, lututnya saya tekuk sampai ke dada. Memeknya yang merah dan basah menganga di depan kontol saya.
“Jangan Rian… tolong… saya masih sakit… memek saya sempit…” pintanya sambil menangis, tapi matanya sudah setengah tertutup nafsu.
Saya tertawa. “Memek janda seperti kamu memang pantas dikontolin karyawan rendahan seperti saya!”
Saya arahkan kepala kontol tebal ke lubang memeknya yang sempit, dorong pelan. “Aaaarrkkhh… sakiiit… Rian jangan… terlalu besar…!” jeritnya. Dinding memeknya menggigit kontol saya erat seperti tangan kecil. Saya diam sebentar di dalam, biarkan dia terbiasa, lalu mulai gerak pelan-pelan.
Lama-kelamaan desahannya berubah. “Sssst… sssst… ahh… pelan dulu… ohhh…”
Saya percepat, hentakan semakin dalam dan keras. Meja kerja bergetar. Suara **plok-plok-plok** kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. “Gimana, Bu Janda? Enak kontol saya yang tebal ini? Jawab, pelacur!”
“Ehhmm… enak… enak Rian… ohhh… dalam sekali…” desahnya malu-malu.
Saya tampar pantatnya lagi. **PLAAAK!** “Bilang keras! Katakan kamu suka dikontolin sama kontol saya!”
“Aaaahh… saya suka… suka banget dikontolin kontol Rian… ooohh… entot lebih keras…!”
Bu Nadia sudah kalah total. Tangan terikatnya meronta-ronta, kakinya menggantung di bahu saya. Saya remas payudaranya kecil, cubit putingnya. Dia mengucek itilnya sendiri sambil mendesah liar. “Rian… itilku… aku tak tahan… aku mau keluar…!”
Tubuhnya mengejang hebat, punggung melengkung, memeknya menyemprot cairan hangat deras di sepanjang kontol saya. Orgasm pertamanya sangat kuat, kakinya gemetar tak terkendali.
Saya terus entot tanpa henti, hentakan brutal. “Dasar janda murahan! Tadi nangis minta ampun, sekarang memekmu menggigit kontolku. Minta lagi!”
Tiba-tiba Bu Nadia memeluk leher saya erat dengan tangan terikat. Matanya sudah berkabut nafsu total. Suaranya berubah manja, memohon, penuh air mata campur nafsu.
“Rian… tolong… kontolin memekku lebih keras… aku mohon… entot janda ini sekuat tenaga… aku sudah gila sama kontolmu… aaaahh… kontolin aku lagi… lebih dalam… aku mau jadi budak kontolmu malam ini… please… ngentot memekku sampai hancur…!”
Saya tertawa puas sambil entot semakin brutal, kontol saya menyentuh serviksnya tiap dorongan. “Lihat kan? Janda sok suci berhijab ternyata pelacur kelas atas. Minta kontol karyawan rendahannya. Bilang lagi, siapa kamu sekarang?”
“Aku… aku budak kontol Rian… aku janda murahan yang haus kontol… entot aku… croooot… crooot… isi aku penuh…!”
Saya muncrat peju panas kental penuh di dalam memeknya yang masih mengejang. Saya dorong dalam-dalam, pastikan semua peju masuk ke rahimnya. Bu Nadia orgasme lagi, tubuhnya kejang-kejang, memeknya memerah dan bengkak.
Setelah itu Bu Nadia tidak berhenti. Meski napasnya ngos-ngosan dan kakinya lemas, dia langsung merangkak turun dari meja, mengulum kontol saya yang masih basah campur peju dan cairan memeknya. “Aku mau lagi, Rian… bangunin kontolmu… aku mau sepong sampai kamu puas… aku mohon… biarkan aku jadi budakmu…”
Saya hina dia terus sambil pegang hijabnya. “Dasar janda kepanasan. Tadi sok berkuasa, sekarang merangkak minta kontol. Kamu memang cuma barang murahan untuk saya entot kapan saja.”
Kami lanjut ronde kedua di sofa kecil di sudut ruangan. Saya duduk, Bu Nadia naik ke pangkuan saya menghadap saya (cowgirl). Tangan masih terikat di belakang. Saya pegang pinggang rampingnya, bantu dia naik-turun di kontol saya. Payudaranya yang kecil bergoyang kecil. “Goyang lebih cepat, budak! Remas kontolku dengan memekmu!”
“Ya Tuan… aaahh… enak… kontol Tuan besar sekali… hancurkan memek janda ini…” desahnya sambil menangis karena malu tapi tubuhnya mengkhianati.
Ronde ketiga: doggy style di meja kerja. Saya tarik hijabnya seperti tali kekang, sodok dari belakang dalam-dalam. Pantatnya yang bulat bergetar tiap hentakan. Saya tampar pantatnya berulang-ulang sampai merah. “Ini hijabmu sekarang buat aku pegang saat ngentot, pelacur!”
“Aaaahh… iya Tuan… pakai hijabku… entot aku seperti anjing… aku suka… aku suka dihina…!”
Ronde keempat di dapur kecil lantai 3. Saya bawa dia ke sana, bengkokkan tubuhnya di atas meja dapur stainless steel yang dingin. Saya entot dari belakang sambil tangan saya remas payudaranya. Dia merintih “Rian… dingin… tapi enak… kontolmu panas sekali di dalam…”
Ronde kelima di lantai, dia telentang, kaki di bahu saya, hentakan paling dalam dan paling cepat. Saya cekik lehernya ringan (bukan sampai mati, cukup untuk membuatnya semakin basah). “Siapa pemilik memek ini sekarang?”
“Kamu… kamu Tuan Rian… memek ini milik kontolmu… aaahh… aku mau hamil pejumu…!”
Kami terus berganti posisi sampai jam 05.30 pagi. Bu Nadia orgasme berkali-kali — setidaknya 8-9 kali. Tubuhnya lemas, keringat membasahi seluruh badan, hijabnya sudah berantakan dan basah air liur serta air mata. Memeknya bengkak merah, penuh peju saya yang mengalir keluar tiap kali dia bergerak.
Pagi harinya, setelah mandi bersama di kamar mandi kecil (saya entot dia lagi di bawah shower, air hangat mengguyur tubuh kami), Bu Nadia sudah berubah total. Dia berlutut di depan saya yang duduk di kursi kerja, masih telanjang kecuali hijab putih yang dia pasang lagi rapi (permintaannya sendiri: “Aku mau tetap berhijab saat melayani Tuan”).
“Rian… mulai hari ini aku milikmu sepenuhnya. Gaji kamu saya naikkan lima kali lipat. Bonus tiap bulan sesuai omset. Saya belikan mobil impianmu. Apartemen di dekat sini. Apa saja yang kamu mau… asal kamu entot aku setiap hari, kapan saja, di mana saja. Aku sudah kecanduan kontolmu. Aku janda murahan yang cuma bisa dipakai oleh Tuan Rian.”
Saya tersenyum puas, tangan saya usap rambutnya yang masih tertutup hijab. “Bagus. Mulai sekarang, tiap malam setelah tutup butik, kamu datang ke sini, buka gamis, buka hijab, dan minta kontol. Kalau tidak, saya ceritakan semua ini ke kakakmu.”
Bu Nadia mengangguk patuh, mata masih berkabut nafsu. “Ya Tuan… aku budak kontolmu sekarang. Malam ini… aku mau lagi. Aku mau kamu entot memekku sampai aku pingsan.”
Sejak malam itu, hubungan kami berubah 180 derajat. Di siang hari dia tetap Bu Nadia yang sopan dan religius di depan karyawan lain. Tapi setiap kali kami berdua saja — di gudang, di ruang fitting, di mobilnya, bahkan di rumahnya — dia langsung jongkok, membuka gamis panjangnya, dan berkata dengan
Rating Cerita: ⭐ 0 / 5 (0 Suara)