⬅ Kembali ke Beranda
Terpikat barang jumbo
(Bagian 2)
meski aku memberontak hebat—kakiku menendang-nendang, tanganku mencakar lengannya, aku gigit bahunya. “Lepas sialan! Aku nggak mau! Ini perkosaan! Aku teriak tetangga!” jeritku sambil menangis. Tapi dia lebih kuat, tangannya yang besar nutup mulutku sementara tangan satunya memeluk pinggangku erat, lalu dia seret dan angkat aku ke kamar tidur lewat lorong rumah yang sempit. Aku terus memberontak, kepalaku geleng-geleng, tubuhku menggeliat seperti ular. “Jangan! Lepasin aku! Aku solehah! Aku benci kamu!”
Di kamar tidur yang luas dengan ranjang king size, seprai biru motif bunga, AC dingin, dan foto pernikahan kami di nakas, Bang Joko lempar aku kasar ke ranjang. Aku langsung bangun dan coba lari lagi, tapi dia tekan tubuhku ke kasur dengan berat badannya, pegang kedua pergelangan tanganku di atas kepala dengan satu tangan besarnya. “Diam lo, perek berjilbab murahan! Lo sok solehah tapi memek lo udah banjir gini. Aku bakal perkosa memek binor jalang solehah ini sampe lo tunduk sama kontol kuli kebun!” suaranya serak penuh kuasa.
Dia mulai melepas pakaianku satu per satu dengan paksa sambil aku terus memberontak. Pertama, dia tarik resleting jubah rumah tipis warna krem di punggungku dengan kasar meski aku geliat-geliat dan teriak “Jangan robek jubahku! Aku nggak mau!” Jubah itu sobek di bagian bahu karena perlawananku, tapi dia tetap tarik turun ke lantai dengan paksa, meninggalkan aku hanya pakai bra putih sederhana dan celana dalam yang sudah basah. Aku menutup dada dengan tangan yang masih dia pegang, air mata jatuh deras. “Jangan Bang... jubahku... aku malu... aku istri baik-baik... tolong lepaskan... aku teriak!”
Bang Joko tertawa menang sambil menghina. “Malu? Memek binor jalang lo udah banjir gini, Bu solehah murahan! Lihat bra lo yang basah keringat nafsu, istri munafik!” Dia buka kaitan bra di punggungku dengan satu tangan sambil tangan satunya tetap tekan tubuhku, tali bra dilepas paksa satu per satu dari bahu meski aku menggeliat dan mencoba gigit lengannya. Bra itu jatuh, payudara 36B-ku meloncat bebas, puting coklat muda sudah tegak. Dia remas keduanya kasar dari atas sambil aku menjerit, “Aduh sakit! Jangan remas! Aku nggak mau!” Tapi putingku semakin keras.
Selanjutnya, dia tarik celana dalamku ke bawah dengan paksa, lututnya dorong pahaku agar terbuka meski aku menendang-nendang. “Lepas celana dalamku! Aku nggak mau! Ini perkosaan!” jeritku sambil menangis. Celana dalam basah itu dilepas dari kaki kanan lalu kiri dengan paksa, meninggalkan memekku yang mulus dan basah terpapar. “Lihat memek binor jalang solehah ini! Udah nganga minta kontol kuli, basah banget kayak pelacur murahan! Suami lo manager tapi memek lo haus kontol preman!” Dia jilat dua jari lalu masukkan ke memekku pelan meski aku mencoba rapatkan paha.
Jilbab hitam panjangku tetap terpasang rapi di kepala, dia sengaja biarin begitu sambil menghina. “Jilbab lo tetap dipakai, perek! Biar aku entot memek binor jalang solehah yang masih sok suci!”
Dia dorong aku telentang di ranjang, kakinya tekan pahaku terbuka lebar, kontolnya gosok-gosok bibir memekku yang basah sambil aku terus memberontak. “Jangan Bang... kontol lo terlalu gede... memekku nanti robek... aku mohon... lepaskan! Aku teriak!” Aku coba dorong dadanya lagi, tapi dia pegang pinggulku kuat. Dengan satu hantaman paksa, “BLEZZZ!” kontolnya masuk separuh meski aku jerit keras, “AAHHH TIDAK! Keluarin! Ini perkosaan! Aku nggak mau! Sakit Bang!” Tubuhku menggeliat hebat, air mata mengalir, tanganku mencakar lengannya.
Bang Joko tersenyum licik penuh kuasa sambil ngentot ritmis kasar meski aku masih melawan. “Rasain memek binor lo dikocok kontol kuli, istri solehah murahan! Lo pura-pura alim di pengajian tapi sekarang lo pelacur berjilbab! Suami lo manager tapi kontolnya kecil kayak jari, lo malah di perkosa kontol preman!” Setiap hantaman sampe pangkal, ranjang berderit keras, bunyi plok-plok basah memenuhi kamar.
Aku masih menangis dan berusaha mendorong, “Keluarin Bang... aku solehah... aku benci ini... ahh... tapi... sakit... tapi...” Tapi lama-kelamaan kenikmatan mulai menyerang, memekku mencengkeram kontolnya, tubuhku kejang. Aku orgasme pertama meski masih menangis, “Aku cum Bang... tidak... aku nggak mau cum... tapi enak...”
Bang Joko tertawa menang, senyumnya semakin lebar penuh kemenangan. “Lihat lo, jalang! Memek binor solehah lo sudah keenakan meski dipaksa! Lo istri khianat, suami lo lemes nggak bisa bikin lo cum gini!” Dia angkat kakiku ke bahunya, posisi missionary lebih dalam, kontolnya ngebor rahimku berkali-kali sambil terus menghina. “Jerit lebih keras, perek! Biar tetangga denger istri terhormat lo lagi diperkosa kuli kebun!”
Aku orgasme kedua, perlawananku melemah, suaraku mulai berubah. “Bang... ahh... entot lebih dalam... aku... aku jalang murahan... Mas Budi kontolnya kecil... aku lebih suka kontol gede Bang... aku khianat...”
Bang Joko tersenyum semakin lebar, wajahnya penuh kemenangan karena melihat Bu Rina solehah mulai tunduk pada kontolnya. “Bagus, perek berjilbab! Akhirnya lo mengaku lo jalang haus kontol kuli!”
Dia tarik kontol keluar, balik tubuhku ke doggy sambil menghina. “Sekarang anus lo giliran, jalang murahan! Anus binor solehah lo bakal aku rusak juga!” Dia ludahi lubang pantatku, tekan ujung kontol ke anus. Aku masih agak melawan lemah, “Jangan Bang... anusku belum pernah... tapi... ahh... masukin... aku perek berjilbab yang mau dihina...” Dia dorong masuk perlahan, anusku melar, sakit nikmat. “Lihat anus binor solehah lo sekarang penuh kontol kuli! Aku kuasai lubang belakang lo juga, istri khianat!” Dia ngentot doggy di anus selama 15 menit, tangan tepuk pantatku keras, “Goyang bokong lo, perek! Anus jalang lo enak banget! Lo istri terhormat tapi bokong lo lebih suka kontol preman daripada kontol suami lo yang lemes!”
Aku orgasme lagi di anus, jeritanku sudah penuh kenikmatan. “Cum di anus Bang... aku jalang murahan... Mas Budi nggak pernah sentuh anusku... entot lebih keras... aku haus kontol Bang!”
Bang Joko tersenyum lebar penuh kemenangan, matanya berkilat puas melihat perempuan solehah yang tadi memberontak sekarang sudah tunduk total pada kontolnya. “Lihat lo, memek dan anus binor solehah sekarang bergantian buat kontol kuli! Lo sok suci tapi sekarang lo budak kontol preman!”
Dia tarik keluar, balik ke memek di posisi cowgirl. Aku naik di atas sendiri, jilbab bergoyang. “Aku naik Bang... memek binor ini mau melumat kontol lo lagi... aku jalang khianat... suamiku manager tapi kontolnya kecil... aku haus kontol gede Bang! Entot memek perek ini lebih keras!” Dia remas pinggulku sambil menghina, “Goyang liar, istri munafik! Memek binor lo sekarang budak kontolku! Lo sok solehah tapi goyang memek lo kayak pelacur profesional!”
Aku goyang cepat, orgasme ketiga, “Aku
Rating Cerita: ⭐ 0 / 5 (0 Suara)