⬅ Kembali ke Beranda
Aisyah sekertaris solehah
(Bagian 3)
dikocok kontolku di setiap sudut kantor, sambil tunangannya nunggu di luar tanpa tahu apa-apa.
Enak banget jadi bos besar.
Setelah mengucapkan itu, aku tersenyum lebar sambil berbalik meninggalkan lobby. Andi masih berdiri di sana dengan senyum polos dan penuh hormat, tangannya memeluk pinggang Aisyah dengan bangga. Dia nggak tahu apa-apa—tunangannya yang tadinya terlihat sangat anggun dan solehah itu baru saja dihancurkan memeknya di sofa kantor oleh kontol bos besarnya. Aisyah berusaha berjalan normal, tapi aku lihat langkahnya sedikit goyah, pahanya sesekali mengejang pelan, dan pipinya masih merona merah. Jilbab pastelnya agak kusut di bagian samping, dan aku tahu pasti memeknya masih berdenyut-denyut kencang, basah kuyup campur cairan memeknya sendiri dan sisa precum kontolku yang tadi nyaris meledak di dalamnya.
Aku naik lift ke gedung parkir sambil tertawa dalam hati. Enak banget jadi bos besar. Malam itu aku pulang dengan kontol masih setengah tegang setiap kali ingat wajah Aisyah yang tadinya berwibawa sekarang sudah berubah jadi muka lonte yang haus kontol. Sementara Aisyah pasti pulang bareng Andi, berusaha bersikap manis di depan tunangannya padahal memeknya masih lengket dan ngocor bekas genjotan tadi.
Keesokan harinya, jam 08.30 pagi, aku masuk kantor dengan mood super. Begitu duduk di kursi kerjaku, pintu ruangan langsung diketuk pelan. Aku suruh masuk, dan Aisyah langsung menyelinap masuk dengan cepat, lalu mengunci pintu dari dalam. Dia berdiri di depan meja kerjaku, jilbab pastel lembutnya rapi seperti biasa, kemeja putih ketat menonjolkan dada montoknya yang naik-turun cepat, rok panjang hitam menutupi pahanya yang mulus. Tapi matanya sudah nggak sama lagi—mata yang tadinya penuh wibawa sekarang penuh nafsu liar, bibirnya basah, dan napasnya sudah memburu seperti orang kehabisan napas.
“Pak Reza…” suaranya parau, hampir gemetar karena nafsu yang sudah nggak bisa ditahan. “Aisyah nggak bisa tidur semalaman, Pak. Memek Aisyah basah terus dari semalam, gatal banget, berdenyut-denyut mikirin kontol gede Bapak yang tebal dan panjang itu. Aisyah malu banget, Pak… malu jadi lonte gini di depan tunangan Aisyah. Tapi Aisyah nggak tahan… Aisyah sudah ketagihan kontol Bapak. Tolong entot memek Aisyah sekarang, Pak. Aisyah mohon… Aisyah lonte kantor Bapak sekarang. Kontol Bapak yang paling enak di dunia ini… lebih gede dari kontol Andi, lebih tebal, lebih enak ngebor memek Aisyah yang sempit ini.”
Aku duduk santai di kursi, kontolku sudah langsung tegang keras di dalam celana. “Wah, lonte kecil. Kemarin masih sok solehah dan berwibawa, sekarang pagi-pagi sudah minta dikocok kontol di kantor? Buka baju kamu sekarang, jalang berjilbab.”
Aisyah nggak buang waktu. Tangannya gemetar karena campuran malu dan nafsu gila, dia buka kancing kemeja satu per satu, dadanya yang besar dan kencang langsung melompat keluar dari bra hitam tipisnya. Putingnya sudah keras banget, merah muda dan berdiri tegak. Rok panjangnya dia tarik ke bawah, celana dalam hitamnya sudah basah banget di bagian selangkangan, cairan memeknya menetes-netes ke paha dalamnya yang putih mulus. Jilbabnya tetap dia pakai, kontras banget sama tubuhnya yang sekarang telanjang dan siap dientot.
Dia langsung berlutut di karpet ruangan di depanku, tangannya membuka resleting celanaku dengan rakus. Kontolku yang sudah tegang maksimal langsung meloncat keluar, ujungnya basah precum, urat-uratnya menonjol tebal. Aisyah melotot, lidahnya langsung terjulur. “Astaga Pak… kontol Bapak pagi ini masih lebih gede lagi… tebal banget… Aisyah mau ngulum dulu, Pak. Aisyah mau hisap kontol bos gede ini sampe bersih.”
Dia langsung buka mulut lebar-lebar, lidahnya menjilat kepala kontolku dari bawah ke atas pelan-pelan, mengecap asinnya precum. “Mmmhh… enak banget Pak… kontol Bapak enak rasanya… asin, tebal, panas… Aisyah suka banget… gluck… gluck… gluck…” Mulutnya yang mungil langsung mengulum setengah batang kontolku, pipinya cekung karena isapan kuat, air liurnya menetes-netes ke jilbabnya yang suci. Aku pegang jilbabnya sebagai pegangan, dorong pinggulku maju-mundur kasar, kontolku masuk lebih dalam sampe nyodok tenggorokannya.
“Gluck… gluck… uhh… Pak… kontol Bapak ngebor tenggorokan Aisyah… Aisyah suka… Aisyah mau kontol Bapak ngebor memek Aisyah sekarang… Aisyah lonte Bapak… Aisyah pelacur berjilbab yang haus kontol gede… tolong genjot memek Aisyah, Pak… Aisyah nggak tahan lagi…”
Aku tarik dia berdiri, dorong tubuhnya ke atas meja kerja. Aisyah nungging di meja, pantatnya terbuka lebar, memeknya yang pink dan basah mengkilap terpampang. Bibir memeknya sudah mengembang karena nafsu, cairannya menetes ke meja. Aku pegang pinggulnya, ujung kontolku gosok-gosok bibir memeknya dulu. “Mau kontol gede ini, lonte?”
“Ya Pak! Masukin sekarang! Entot memek Aisyah yang basah ini! Aisyah mau dikocok sampe hancur… kontol Bapak stretch memek Aisyah… Aisyah rasain ujung kontol Bapak ngejepit rahim Aisyah… AAHHH PAK!!”
Aku sodok keras sekali, kontolku masuk sampai pangkal dengan suara “plok!” basah. Memeknya yang ketat banget langsung menggenggam kontolku seperti vakum panas dan licin. Aisyah menjerit tertahan, tubuhnya gemetar hebat, matanya melotot, lidahnya terjulur keluar. “AAHHH PAK… kontol Bapak… ngisi penuh memek Aisyah… sakit tapi enak banget… urat-urat kontol Bapak ngegesek dinding memek Aisyah… Aisyah cum langsung Pak… memek Aisyah bergetar… muncrat… AAHHH!!”
Cairan memeknya muncrat deras basahin kontolku dan meja. Aku mulai genjot kasar, pinggulku tabrak pantatnya plok-plok-plok-plok tanpa ampun. Setiap dorongan, kontolku keluar-masuk memeknya yang banjir, suara cipratan cairan memenuhi ruangan. Aisyah sudah gila nafsu, pinggulnya goyang balik sendiri, dadanya bergoyang-goyang liar di atas meja.
“Entot lebih kencang Pak! Genjot memek Aisyah yang binal ini! Aisyah lonte kantor Bapak… Aisyah nggak peduli Andi nunggu di lobby nanti… Aisyah cuma mau kontol Bapak ngebor memek Aisyah sampe robek… ya gitu Pak… lebih dalam… hantam rahim Aisyah… Aisyah suka kasar… tampar pantat Aisyah… Aisyah jalang berjilbab yang suka dihina… AAHHH PAK… Aisyah cum lagi… memek Aisyah kenceng banget… muncrat deras… basahin kontol Bapak… Aisyah nggak mau berhenti… entot terus… Aisyah ketagihan… Aisyah mau jadi lonte tetap Bapak selamanya!!”
Aku balik posisi, duduk di sofa dan tarik dia naik ke pangkuanku. Aisyah naik sendiri, pegang kontolku yang licin basah, lalu turun pelan-pelan sampe kontolku tenggelam total di memeknya. Matanya terpejam rapat, mulutnya terbuka lebar, air mata kenikmatan mengalir di pipinya. “Pak… kontol Bapak… nge-stretch memek Aisyah sampe penuh… Aisyah rasain setiap uratnya… enak banget… Aisyah mau goyang sendiri… Aisyah lonte haus kontol… lihat jilbab Aisyah masih rapi tapi memek Aisyah lagi dikocok kontol bos…”
Dia goyang pinggulnya liar naik-turun, memeknya menghisap kontolku setiap turun. Aku remas dadanya keras, cubit putingnya sambil sodok dari bawah. Tubuhnya gemetar hebat, keringat menetes dari lehernya ke jilbab. “Aisyah… Aisyah hampir
Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)