⬅ Kembali ke Beranda

ku geprek tetangga ku (Bagian 3)

Memang aku tahu sejak SMP Aisyah sudah naksir kepadaku. Tapi aku cuek karena aku lebih bernafsu kepada ibunya. Kini Aisyah sudah jatuh di pelukanku. Kulihat jam dan aku baru menyadari bahwa kami telah bermain selama hampir satu jam di ruang tamu. Aisyah pun memakai celana dalamnya dan memakai dasternya, hijabnya dirapikan dengan tangan gemetar. Dia pamit pulang sambil berbisik, “Mas… jangan bilang siapa-siapa ya… Aisyah malu… tapi Aisyah mau ketemu lagi besok untuk di entot lagi.”

Sejak itu aku dan Aisyah berpacaran diam-diam. Kami sering melakukan hubungan seks di rumahku karena aku tinggal sendiri. Setiap sore atau malam, Aisyah datang diam-diam ke rumahku. Kami mulai dari ruang tamu, kadang langsung ke kamar tidur. Ibunya, Bu Fatimah, mengetahui hubungan tersebut. Dia tampak setuju dan merestuinya dengan senyum solehahnya. Dia semakin ramah kepadaku dan semakin tidak canggung dalam berpakaian di hadapanku. Sering dia hanya mengenakan daster tipis tanpa hijab di rumah saat siang hari yang panas, buah dadanya yang besar bergerak bebas di balik kain tipis itu di ruang tamu.

Suatu hari Bu Fatimah bertengkar hebat dengan suaminya karena masalah rumah tangga di ruang tamu rumah mereka. Kemudian dia kabur dari rumahnya dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Gresik. Suaminya tidak lagi peduli sehingga dibiarkan saja Bu Fatimah pergi. Aku dan Aisyah pernah mengunjunginya dan meminta Bu Fatimah untuk pulang. Tapi Bu Fatimah menolak dan tetap tinggal di kontrakannya dengan alasan ingin hidup tenang beribadah. Sejak itu Aisyah dan Bu Fatimah tinggal terpisah. Aisyah tetap tinggal di rumahnya dan menemani ayahnya.

Suatu hari libur yang cerah, aku mengunjungi rumah kontrakan Bu Fatimah di Gresik. Waktu itu Aisyah harus menjaga rumah di Surabaya. Aku dimintanya untuk mengunjungi ibunya. Karena sudah akrab, Bu Fatimah tidak malu menerimaku di ruang tamu kontrakannya yang sederhana. Setelah mengobrol ngalor-ngidul tentang agama dan keluarga di ruang tamu selama hampir satu jam, angin sepoi-sepoi dan perjalanan yang jauh membuatku mengantuk. Waktu itu sudah jam tiga sore. “Bu, saya mau tidur dulu ya. Nanti jam lima bangunkan saya,” kataku. “Ya sudah tidur saja. Mau di sini atau di kamar?” tanya Bu Fatimah dengan suara lembutnya. “Di sini saja deh. Anginnya enak.” Aku pun mulai tiduran di sofa ruang tamu sementara Bu Fatimah pergi ke dapur memasak.

Sejam kemudian aku terbangun oleh suara motor di pinggir jalan di depan kontrakan. Aku bangun dan mencoba mencari Bu Fatimah. Kulihat ke dalam kamarnya, sepi. Aku pun pergi ke dapur, tidak ada. Kayaknya Bu Fatimah sedang mandi di kamar mandi. Kulihat di depan kamar mandi ada sendalnya. Aku menghampiri dan mengintip ke dalam melalui celah pintu kamar mandi yang terbuat dari papan. Ternyata benar Bu Fatimah ada di dalam. Tapi ia tidak sedang mandi. Kulihat tangan kanannya yang sedang menggesek-gesek vaginanya dengan ganas sementara tangan kirinya meremas-remas buah dadanya yang besar di balik handuk yang longgar. Terdengar desahan kecil dari mulutnya, “Aahh… maafkan hamba yang haus ini…” Pemandangan ini membuatku terangsang luar biasa. Aku pun mulai mengocok penisku diam-diam di depan pintu. Tiba-tiba aku sadar bahwa ini adalah kesempatan bagiku. Bu Fatimah memang sudah lama tidak berhubungan seks dengan suaminya. Hampir delapan bulan. Sejak suaminya sering sakit dan tinggal di rumah istri tuanya. Pasti Bu Fatimah sangat haus sentuhan pria meski ia solehah.

Aku berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi dengan tegas. “Bu sedang apa? Saya mau ke kamar mandi nih.” Kayaknya Bu Fatimah kaget berat. Dari dalam kudengar ia menjawab dengan gugup, “Eh.. saya sedang mandi, Reza…” “Aduh Bu, saya sakit perut nih Bu…” kataku sambil berpura-pura kesakitan di depan pintu. “Ya sudah… tunggu sebentar…” kudengar suara air disiram dan tidak berapa lama Bu Fatimah keluar dengan mengenakan handuk yang melilit tubuh seksi di koridor depan kamar mandi. Tubuhnya yang montok terlihat sangat merangsang. Buah dadanya yang besar membusung tertutup sebagian oleh handuknya. Kurasakan penisku bangun pelan-pelan. “Katanya sedang mandi, kok tidak basah,” godaku sambil tersenyum nakal. “Ya kan belum jadi mandi…” jawabnya malu. “Sedang mandi atau sedang apa..” desakku di koridor.

Bu Fatimah terlihat memerah wajahnya menahan malu, hijabnya sudah dilepas karena mandi. Dia mencoba membenarkan handuknya yang agak melorot. “Bu, saya tahu Bu sedang ingin begituan. Saya mau kok membantu Bu,” kataku sambil maju dan menarik ke bawah handuknya dengan cepat di koridor. Seketika itu juga Bu Fatimah telanjang bulat di hadapanku. Berbeda dengan anaknya, buah dada Bu Fatimah besar, ukurannya mungkin 36. Di usianya yang sudah 43 tahun sekarang, tubuhnya masih kencang dan mulus. Wajahnya yang cantik hanya memiliki sedikit kerutan di ujung matanya. Bu Fatimah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya. Dia terlihat akan marah dan berteriak, “Reza! Kamu gila ya?! Ini dosa besar! Aku solehah, jangan rusak aku!” Aku pun segera mencium bibirnya kuat agar dia tidak bersuara di koridor. Dia nampak gelagapan. Dengan sekuat tenaga kurangkul dan kuangkat Bu Fatimah masuk kembali ke kamar mandi. Dia berontak dan berusaha melepaskan diri sambil berbisik marah, “Lepaskan! Aku istri orang! Ini dosa besar!” Aku melepaskannya dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Sekitar kontrakan Bu Fatimah cukup sepi. Sehingga jika dia berteriak belum tentu ada yang mendengar. Tapi aku tidak mau memperkosanya sepenuhnya. Kubiarkan Bu Fatimah yang gemetaran di tepi bak mandi sambil menutupi tubuhnya.

“Reza, kamu mau apa..?” ujarnya agak gemetar, suaranya penuh dosa di kamar mandi. Aku tidak menjawab langsung. Dengan tenang kubuka pakaianku satu per satu di kamar mandi. Akhirnya aku telanjang bulat di hadapannya. Penisku yang sedari tadi menegang mengacung di hadapannya. Aku tersenyum melihat Bu Fatimah yang gemetar dan memandangi penisku dengan mata lapar. Aku tahu dia pasti menginginkannya meski solehah. Kupermainkan penisku naik turun di hadapannya. Kulihat dia menelan ludah. Penisku yang panjangnya 15 cm sudah ereksi sempurna. Sehingga terlihat kokoh sekali. Aku maju ke depan mendekatinya. Kulihat napasnya mulai memburu. Matanya terus menatap penisku. Aku yakin tidak akan ada perlawanan darinya lagi. Tanganku mulai membelai bahunya perlahan bergerak ke bawah menuju buah dadanya yang besar di kamar mandi. Kedua telunjukku bergerak mengikuti lekuk buah dadanya yang bulat. Kemudian kuplintir putingnya yang belum mengeras. Mata Bu Fatimah tetap tak lepas melihat penisku. Perlahan-lahan dia mulai menutup matanya dan mendesah, “Reza… sentuh lagi… iBu mau di entot sekarang juga…” Bu Fatimah

Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)

Beri nilai untuk cerita ini: