⬅ Kembali ke Beranda
Terpikat barang jumbo
(Bagian 3)
cum lagi Bang... aku perek berjilbab yang merendahkan diri sendiri... Mas Budi nggak bisa bikin aku goyang gini... aku jalang lo selamanya! Mohon entot lebih dalam!”
Lalu switch lagi ke anus di reverse cowgirl, aku duduk membelakangi, anusku naik turun melumat kontol. “Anusku lagi Bang... entot lubang pantat jalangku lebih dalam... aku jalang murahan yang suka dihina... suamiku nggak pernah entot anusku... aku lebih suka kontol kuli di bokongku! Mohon Bang... entot anus perek ini sampe robek!” Dia tertawa menang sambil menghina, “Lihat lo, memek dan anus binor solehah sekarang bergantian buat kontol kuli! Lo istri terhormat tapi lubang lo berdua milik preman kebun! Lo sudah tunduk total sama kontol saya!”
Kami lanjut spooning di memek, dia peluk dari samping sambil ngentot pelan tapi dalam, “Rasain memek binor lo dikocok pelan, jalang! Suami lo nggak bisa kasih ini!” Aku merintih sambil memohon, “Iya Bang... kocok memek perek ini... aku jalang khianat... Mas Budi lemes... aku lebih suka Bang Joko yang jantan... mohon entot lebih cepat!”
Lalu standing doggy di anus dekat cermin, aku berdiri membungkuk, dia entot dari belakang sambil tarik jilbabku kayak tali kekang. “Lihat di cermin, perek! Lo solehah tapi anus lo lagi disetubuhi kuli! Suami lo nggak tahu istrinya jalang murahan!” Aku jerit sambil memohon, “Aku lihat sendiri Bang... aku perek berjilbab yang merendahkan diri... Mas Budi nggak sebanding... entot anus jalangku lebih keras! Mohon Bang... isi anus perek ini dengan kontol gede lo!”
Setiap ganti posisi dia ngumpat vulgar tanpa henti, aku semakin liar sambil merendahkan diri dan suami. Akhirnya di missionary lagi, dia muncrat peju banjir di memekku sambil jerit, “Isi rahim binor lo dengan peju kuli, jalang murahan! Lo istri solehah tapi sekarang penuh sperma preman!” Aku orgasme terakhir, jerit sambil memohon, “Aku cum Bang... rahim perek ini milik kontol lo... aku jalang khianat... Mas Budi kontolnya kecil nggak bisa isi rahimku... mohon muncratin peju lo banyak-banyak... aku budak kontol kuli selamanya!”
Bang Joko tersenyum lebar penuh kemenangan, wajahnya puas sekali melihat Bu Rina yang tadi memberontak keras sekarang sudah tunduk total dan memohon-mohon pada kontolnya. “Bagus, perek berjilbab! Lo sudah jadi jalang haus kontol saya sepenuhnya!”
Kami rebah capek di ranjang pengantin selama 10 menit, napas ngos-ngosan, tubuh basah keringat, jilbab hitamku masih terpasang tapi sekarang kotor noda peju dan cairan memek. Bang Joko pergi duluan bawa peralatannya, ninggalin aku sendirian. Aku masih telentang, memekku berdenyut penuh peju orang lain yang netes-netes ke paha, anusku juga berdenyut sakit nikmat. Telepon rumah berdering di nakas.
Aku angkat dengan tangan lemas, tubuhku masih gemetar, keringat dingin bercampur peju yang lengket di paha dan perut. Suasana hatiku campur aduk parah: bersalah berat sampai dada terasa sesak, sedih sekali karena baru saja mengkhianati Mas Budi yang aku cintai, malu karena tubuhku yang tadi memberontak sekarang sudah jadi budak kontol kuli kebun, tapi di balik itu semua ada gelombang kepuasan yang gila-gilaan, nafsu yang masih bergelora, dan rasa mesum yang membuat aku tersenyum licik dalam hati. Memek dan anusku masih penuh peju panas Bang Joko, jilbabku kotor noda, tapi aku merasa hidup banget, seperti akhirnya aku menemukan diri yang sebenarnya—perek berjilbab yang haus kontol gede.
“Halo sayang, ini Mas Budi. Aku di Balikpapan nih, lagi beli barang kerajinan buat kamu. Kamu sehat? Suara kamu kok agak lemas gitu? Hari ini kamu ngapain aja? Tukang kebun Bang Joko sudah datang belum? Rumah aman kan? Kamu makan siang apa? Aku kangen banget sama kamu, loh. Mau dibeliin apa? Ada yang kamu pengen dari sini? Cerita dong, aku dengerin.”
Aku jawab dengan suara manis yang pura-pura biasa, tapi tanganku tanpa sadar masih memegang memekku yang basah peju, jari pelan mengusap klitoris yang masih sensitif. “Iya Mas, sehat kok... cuma agak capek aja hari ini. Bang Joko tadi sudah datang, dia kerja di kebun seperti biasa... rumah aman-aman aja. Aku makan siang nasi goreng sisa kemarin. Aku juga kangen Mas... beliin aja yang cantik, apa saja yang Mas suka. Aku tunggu pulangnya ya...”
Dalam hati aku tertawa mesum sambil menggigit bibir. *Maaf Mas Budi... suamiku yang baik hati dan lemes ini... memek dan anus istrimu sekarang penuh peju kental Bang Joko. Tadi aku memberontak mati-matian, tapi sekarang aku jalang murahan yang memohon-mohon supaya kontol gede kuli kebun itu entot memek dan anusku lagi. Kontolmu kecil nggak ada apa-apanya. Aku perek berjilbab yang ketagihan kontol preman. Besok aku bakal ajak Bang Joko entot di ruang tamu sambil tetangga lewat, biar lebih berisiko dan lebih enak!*
Aku tutup telepon, tersenyum puas sambil jilat sisa peju di jari. Siapa sangka, perempuan solehah berjilbab panjang ini ternyata perek paling binal dan murahan di komplek. Dan aku nggak menyesal sama sekali—malah memek dan anusku udah gatal lagi mikirin kontolnya besok. Aku perek berjilbab sejati sekarang!
Rating Cerita: ⭐ 0 / 5 (0 Suara)