⬅ Kembali ke Beranda
ku geprek tetangga ku
(Bagian 4)
sudah pasrah. Segera kulumat kedua buah dadanya dengan rakus. Bergantian kiri dan kanan sambil tanganku meremasnya juga bergantian. Lidahku bermain-main dengan leluasa di kedua putingnya dan menyapu seluruh permukaan buah dadanya. Sekali-kali kugigit kecil buah dadanya. Bu Fatimah mulai memiringkan kepalanya. Mulutnya agak terbuka dan mengeluarkan rintihan yang pelan, “Hheh.. ssshh.. ya… sentuh iBu lebih dalam… iBu haus sekali…”
Tangan kiriku mulai turun ke bawah menuju selangkangannya sementara tangan kananku meremas-remas pantatnya di kamar mandi. Mulutku masih sibuk melahap buah dadanya. Setelah sampai di vaginanya, jari tengahku langsung masuk ke dalamnya. Dengan cepat kugesek-gesekkan jariku di dalamnya. Bu Fatimah langsung terangsang dengan hebat. Tangan kirinya makin kencang menjambak rambutku dan kepalanya ditekan makin dalam. “Aghh.. aghhhhh… aghhhh…. terus Reza…. terus…. shhh.. aghhhh…. aghhhh…. yaaah… ahhhh… tusuk vaginaku dengan jari lebih cepat!” Bu Fatimah terus meracau tak karuan sambil air matanya jatuh. Selama sekitar lima menit aku korek habis-habisan vaginanya di kamar mandi. Kemudian aku merasakan cairan bening mengalir dari vaginanya melalui jariku. Rupanya dia sudah terangsang hebat. Aku menghentikan permainan jariku dan mulai merambat mencium ke bawah menuju vaginanya. Kulihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu agak lebat di sekitar lubangnya sudah basah sekali. Aku siram dengan air agar vagina itu menjadi lebih bersih. Lalu aku mulai menjilati seluruh permukaannya. Kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang montok. Kedua tangan Bu Fatimah menjambak kepalaku dengan keras sambil mendesah panjang dan tak beraturan. “Aghhhh… yaaa… yaaa…. Terus Reza… terus shhhh ahh.. ahhghhh… iBu mau di entot sekarang…”
Lidahku makin dalam menjangkau ke dalam vaginanya sambil sekali-kali menyentuh klitorisnya. Terkadang kuhisap dan kugigit kecil klitorisnya. Kujilat, hisap, jilat, hisap, gigit, jilat demikian berulang-ulang kupermainkan vaginanya di lantai kamar mandi. Makin lama desahannya makin memburu. “Reza… saya… mau… keluar… aghhh… entot iBu sekarang!” Terlihat cairan putih meleleh keluar dari lubang vaginanya. Kulihat Bu Fatimah merem melek dan napasnya terengah-engah. Aku berdiri dan mencium bibirnya dalam-dalam sambil berbisik, “Bu, sepongin saya dong…” Bu Fatimah langsung berjongkok pasrah di lantai kamar mandi. Tangan kanannya memegang penisku dan mulai mengocoknya sambil sesekali dikecupnya. Seluruh permukaan penisku dan bijinya dikecupnya pelan-pelan. Aku menikmatinya tapi Bu Fatimah belum juga menghisap penisku sepenuhnya. “Bu ayo dong diisep… jangan malu,” pintaku sambil membelai rambutnya.
Dia pun mengisap hanya kepala penisku dulu. Kemudian dengan cepat dia menjilati seluruh permukaan penisku layaknya sedang menjilati es krim. Meskipun rasanya nikmat tapi aku ingin penisku dihisap dalam. Tanganku memegang kepalanya. Seketika itu dia membuka mulutnya lebar. Aku langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Tanpa melepas cengkeraman di kepalanya aku mulai menggoyangkan pinggulku. Penisku keluar masuk dengan cepat di dalam mulutnya di kamar mandi. Nikmatnya luar biasa. Kurasakan kepala penisku menyentuh langit-langit mulutnya dan terkadang menyentuh ujung kerongkongannya. ‘Mmmghhh….. mmmhhgghhh… ‘ kulihat Bu Fatimah memberontak sedikit. Aku melonggarkan cengkeramanku. Bu Fatimah langsung melepaskan mulutnya dari penisku. “Uhuugg… uuhhuggg… heeegghh…” rupanya Bu Fatimah tersedak. “Aduuh… maaf Bu terlalu kencang,” kataku sambil membelai rambutnya. Bu Fatimah tersenyum lemah dan langsung menghisap penisku lagi. Kali ini aku tidak memegangi kepalanya lagi karena dia mulai menghisap seperti yang aku inginkan. Pertama-tama pelan lalu semakin lama bertambah cepat. Diselingi dengan kecupan, jilatan dan kocokan tangan. Terlihat Bu Fatimah bernafsu sekali melahap penisku. Setiap kali dihisap serasa penisku diurut pelan-pelan dan licin. Aku serasa melayang. Nikmat sekali. Seluruh batang penisku berada di dalam mulutnya. “Aghhhhh…. yes… aghhh… yes.. hisap lebih dalam…”
Tak lama kemudian aku merasa aku akan ejakulasi. Segera kupegang kepala Bu Fatimah dan aku mulai menggoyangkan pinggulku dengan cepat. Sleep… sleeeep…. sleeep…. sleeep. Bunyi penisku beradu dengan pinggir mulutnya. Bu Fatimah mencoba memberontak “Mmmhhh…. mmmmmhhhh…” tapi hal itu malah membuat nikmat karena penisku jadi menelusuri seluruh rongga mulutnya. Akhirnya aku ejakulasi di dalam mulutnya. Bu Fatimah mencoba melepaskan mulutnya dari penisku. Tapi aku malah semakin menekan dan memaksanya menghisap lebih dalam. “Isep Bu…. isep…. enak kok Bu…” Akhirnya dia pasrah dan menelan semua air maniku sambil batuk kecil. Setelah habis semua air maniku. Penisku menurun ereksinya. Bu Fatimah kulihat tersenyum malu sambil membersihkan air mani yang meleleh keluar dari mulutnya dengan jari. “Bu kita lanjutkan di kamar yuk..” ajakku. Bu Fatimah langsung berdiri berjalan mendahuluiku menuju kamar tidurnya, masih telanjang. Goyangan pantatnya yang montok perlahan mulai membangkitkan kembali penisku. Aku siram dengan segayung air agar lebih segar dan aku mengikuti Bu Fatimah menuju kamarnya.
Bu Fatimah langsung rebahan di tempat tidur kamarnya. Dadanya semakin terlihat membusung merangsang. Jarinya memainkan vaginanya sendiri sambil berbisik, “Reza… iBu sudah tidak tahan… entot iBu sekarang di kamar ini… iBu mau di entot yang kerasi!” Aku langsung rebah di samping kirinya di kasur. Kuhisap kedua buah dadanya yang menantang tersebut sementara tangan kiriku mulai bermain di dalam vaginanya. Tangan kanan Bu Fatimah mengocok-ngocok penisku yang tampaknya akan segera ereksi dengan sempurna kembali. Bibir kami kemudian saling berpagutan dan tangan kami makin cepat bergerak di kamar tidur. Jariku keluar masuk dengan cepat demikian juga tangannya yang mengocok penisku dengan cepat. Tak berapa lama kurasakan penisku sudah kembali ereksi dengan sempurna. Masih dengan posisi rebahan di sampingnya, aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Kaki kiri Bu Fatimah melintang di badanku sehingga selangkangannya terbuka lebar. Karena sudah sering dipakai maka aku tak kesulitan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan cepat kugoyangkan pinggulku. Tangan kiriku sibuk meraba bagian depan tubuhnya. Buah dadanya, perutnya, permukaan vaginanya. Sementara bibirku juga sibuk bergerilya ke bahu, leher dan bibirnya. Tidak seperti anaknya yang cenderung pasif, Bu Fatimah tampak lebih aktif. Dia ikut menggoyangkan pantatnya ketika penisku keluar masuk di vaginanya. Seluruh dinding vaginanya serasa keras menjepit penisku. Terdengar desahan-desahan kecil dari mulutnya. “Shhh…. ahhhh… ehhh.. shhhhh… entot iBu keras… iBu minta lagi setelah ini!”
Selanjutnya kami melakukan banyak variasi gaya di kamar tidur. Kedua kakinya kuangkat ke bahuku dan pahanya kurapatkan. Dengan begini bukaan lubang vaginanya menjadi lebih sempit. Sehingga jepitannya lebih terasa di penisku. Ayunan pinggulku yang ritmis, membuat gesekan penis dan vaginanya menjadi lebih nikmat. Kemudian kurebahkan pahanya ke samping kanannya dan dengan posisi menyamping aku melakukan penetrasi. Vaginanya terasa agak longgar tapi kuat mencengkeram penisku. Rasanya benar-benar nikmat… ohhhh… yeeeahh.. desahku seiring goyanganku yang cepat menusuk-nusuk vaginanya di kasur. Bu Fatimah terlihat meremas-remas sprei tempat tidur. Matanya terpejam dan dari
Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)