⬅ Kembali ke Beranda
Aisyah sekertaris solehah
(Bagian 5)
liar naik-turun di pangkuanku, memeknya menghisap kontolku dengan suara “plok-plok-plok” basah yang memenuhi mobil. Dadanya bergoyang-goyang liar di depan wajahku, putingnya aku kulum dan gigit pelan. Aisyah jerit-jerit keenakan sambil matanya nggak lepas dari Andi di luar. “AAHHH PAK! Entot memek Aisyah lebih kencang! Kontol Bapak ngena banget di rahim Aisyah… Aisyah cum liat Andi nunggu polos gitu… Aisyah lonte Bapak… Aisyah pelacur kantor yang haus kontol… genjot lebih cepat Pak… kocok memek Aisyah sampe muncrat di jok mobil Bapak!”
Aku angkat pinggulku dari bawah, sodok kontolku keras-keras ke atas, ujung kontolku menghantam serviksnya berulang-ulang. Cairan memeknya muncrat-muncrat tiap dorongan, membasahi paha kami dan jok mobil. Aisyah orgasme pertama, tubuhnya kejang-kejang, memeknya menjepit kontolku kuat-kuat. “AAHHH PAK… Aisyah cum… memek Aisyah bergetar… squirting Pak… basahin kontol Bapak… Aisyah nggak peduli Andi dengar… Aisyah mau teriak keenakan… ENTOT MEMEK AISYAH LEBIH DALAM PAK!!”
Andi di luar memang mendengar suara samar-samar jeritan dan erangan dari arah mobil mewah yang gelap itu, tapi dia cuma mengernyit sebentar lalu kembali main HP. “Mungkin ada orang lagi telpon atau radio di mobil orang kantor… biasa lah,” pikirnya polos, nggak curiga sedikit pun.
Aku balik posisi tanpa cabut kontol. Aisyah aku suruh nungging di kursi belakang, tangannya bertumpu di sandaran jok depan, pantatnya terbuka lebar ke belakang, menghadap jendela yang langsung ke arah Andi. Aku berdiri sedikit di belakang (posisi doggy di mobil yang sempit tapi cukup), pegang pinggulnya, lalu sodok kontolku dari belakang dengan dorongan brutal. “Plok! Plok! Plok! Plok!” suara benturan basah keras memenuhi mobil.
Aisyah jerit lebih keras, kepalanya mendongak, matanya terpaku ke Andi yang masih duduk santai di motor. “Doggy gini enak banget Pak! Kontol Bapak ngebor memek Aisyah dari belakang… ngena di titik G Aisyah… Aisyah lihat Andi di sana… dia nunggu tunangannya yang lagi di-genjot bos… Aisyah binal banget Pak… Aisyah suka selingkuh gini… jambak jilbab Aisyah… tarik kepala Aisyah ke belakang… Aisyah mau kasar… genjot memek Aisyah sampe hancur… AAHHH PAK! Aisyah cum lagi… memek Aisyah muncrat deras… cipratan ke jok… Aisyah lonte Bapak… kontol Bapak jauh lebih gede dan enak daripada kontol Andi yang kecil itu… Aisyah nggak mau kontol Andi lagi… Aisyah cuma mau kontol Bapak tiap hari!!”
Aku tampar pantatnya keras beberapa kali, meninggalkan bekas merah di kulit putih mulusnya, sambil terus genjot tanpa henti. Keringat kami berdua menetes, mobil mulai berbau sex yang pekat. Aku balik lagi ke posisi missionary: aku reclining jok belakang, Aisyah aku tarik naik, kakinya aku angkat ke bahu, kontolku masih tenggelam dalam memeknya. Dari posisi ini dia bisa langsung lihat Andi lewat jendela samping sambil aku sodok dari depan dengan ritme cepat dan dalam.
“Missionary gini… kontol Bapak ngejepit rahim Aisyah… Aisyah rasain setiap urat kontol Bapak… enak banget Pak… Aisyah mau diisi sperma Bapak… creampie memek Aisyah… tolong muncrat di dalam… Aisyah mau rahim Aisyah penuh sperma bos… sambil Aisyah lihat Andi nunggu… Aisyah jalang… Aisyah pelacur berjilbab yang suka dihina… AAHHH PAK! Aisyah cum ketiga kalinya… memek Aisyah kenceng banget… squirting lagi… basahin seluruh jok Bapak!!”
Aku nggak tahan lagi. Genjotanku semakin brutal, kontolku berdenyut-denyut di dalam memeknya yang panas dan berdenyut. Akhirnya aku dorong dalam-dalam sampai pangkal, dan muncratkan sperma panas kental tebal-tebal langsung ke dalam rahim Aisyah. “Terima ini, lonte! Isi memekmu dengan sperma bos yang banyak!!”
Aisyah menjerit panjang, tubuhnya kejang hebat, memeknya menjepit kontolku sambil squirting bareng. “AAHHH PAK… Aisyah rasain sperma Bapak panas… memek Aisyah penuh… Aisyah cum bareng… Aisyah bahagia banget… Aisyah lonte Bapak selamanya… terima kasih Pak… terima kasih udah entot memek Aisyah di depan Andi…”
Aku cabut kontolku pelan, sperma putih kental langsung menetes-netes dari memek Aisyah yang mengembang ke jok mobil. Aisyah masih ngos-ngosan, wajahnya merona, matanya melotot penuh kepuasan. Aku perintah tegas: “CD dan BH kamu tinggal di mobil. Jangan pakai pulang. Aku mau memekmu ngocor sperma Bapak sepanjang jalan pulang, biar kamu ingat siapa bos memekmu yang sebenarnya.”
Aisyah mengangguk pasrah tapi matanya masih penuh nafsu. Dia pakai lagi kemeja dan roknya tanpa dalaman sama sekali. Putingnya masih keras menonjol di balik kemeja tipis, dan cairan sperma campur memeknya mulai menetes pelan ke paha dalamnya yang mulus. Jilbabnya dia rapiin lagi, tapi wajah dan lehernya masih ada bekas keringat dan air liur.
Kami berdua keluar mobil dengan santai. Aku kunci mobil, lalu kami jalan bareng menghampiri Andi yang masih duduk di motornya. Langkah Aisyah sedikit goyah, pahanya sesekali mengejang karena memeknya masih berdenyut dan sperma masih ngocor pelan di dalam roknya.
“Selamat sore, Pak Reza,” sapa Andi dengan senyum hormat dan polos sambil berdiri dari motornya.
Aku tersenyum lebar sambil menepuk bahu Andi ringan. “Terima kasih ya Andi sudah nunggu lama. Tadi Aisyah saya kasih training khusus dan tugas tambahan yang penting banget di mobil. Dia sangat… patuh dan rajin sekali. Kamu beruntung punya tunangan yang dedicated kayak gini.”
Andi tertawa senang, wajahnya polos tanpa curiga sedikit pun. “Iya Pak, terima kasih banyak Pak Reza. Aisyah memang kerja keras ya… saya senang kok nunggu.”
Aisyah hanya tersipu sambil menunduk, tapi aku lihat dia diam-diam meremas pahanya sendiri, memeknya masih basah dan penuh sperma di bawah rok. Matanya melirikku sekilas penuh nafsu liar, janji tanpa kata bahwa besok dia akan minta lagi.
Kami berpisah. Andi naik motor, Aisyah naik di belakang sambil memeluk pinggang tunangannya dengan manis. Tapi di dalam roknya, sperma bosnya masih hangat dan lengket di memeknya yang sudah rusak total.
Enak banget jadi bos besar. Aisyah sekarang benar-benar milikku, bahkan di depan mata tunangannya sendiri.
Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)