⬅ Kembali ke Beranda

ku geprek tetangga ku (Bagian 5)

mulutnya keluar rintihan-rintihan yang merangsang. “Ooughhh…. yaaahh… ouuhhh…. aghhhh… hahhhgghhh… yaaahh… iBu mau orgasme ketiga… jangan berhenti!”

Selama hampir satu jam aku menghujamkan penisku ke vaginanya di kamar tidur. Posisiku di atas membuatku leluasa melakukan manuver. Tanganku dengan leluasa meremas-remas buah dada dan pantatnya. Kemudian aku menyelipkan bantal di bawah pantatnya sehingga vaginanya terangkat ke atas dan penetrasiku bisa lebih dalam. Bu Fatimah terlihat makin menggila. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Sementara pinggulnya menggelinjang ke atas merepotkan aku menahannya. Selama satu jam itu pula Bu Fatimah sudah dua kali mengalami orgasme. Aku pikir tenaganya sudah habis. Sementara aku masih belum orgasme juga. Tiba-tiba Bu Fatimah mendorongku ke samping dan dia langsung berada di atas di kasur. Kemudian secara menggila dia goyangkan pantatnya naik turun maju mundur. Kontolku berputar-putar mengikuti gerakan dan isapan vaginanya. Luar biasa wanita ini. Ternyata tenaganya masih banyak. Buah dadanya yang bergoyang bergelantungan segera kuhisap. Sementara goyangannya makin liar.. “Ahhh… oughhh… yahhh… ayo… Reza…. rasain memeku… entot iBu lebih cepat… iBu minta di entot berulang-ulang setiap hari!” Bu Fatimah meracau tidak karuan. Aku memeluk punggungnya keras sambil mulutku terus menghisap buah dadanya dengan nafsu. Sepertinya aku akan keluar. Segera kupegang pinggulnya dan kugoyangkan tubuh Bu Fatimah dengan cepat. “Ahhh… saya mau keluar Reza.. entot lagi setelah ini!” “Saya juga Bu…. ahhhhh” Akhirnya aku ejakulasi bersamaan dengan orgasme Bu Fatimah yang ketiga kalinya. Kurasakan denyut penisku yang cepat bersamaan dengan disemburkannya air maniku ke dalam memek Bu Fatimah. Kami berpelukan sangat erat. Sementara otot memek Bu Fatimah terasa keras memijit-mijit penisku. Kami pun berciuman panjang. Dan Bu Fatimah rebah di pelukanku sambil menangis bahagia di kamar tidur. “maaf saya tidak mengeluarkannya di luar. Soalnya kagok.” “Tidak apa-apa, Sebenarnya Bu sudah divasektomi tiga bulan yang lalu. Jadi iBu tidak akan hamil. Dan… iBu mau di entot setiap hari ya… iBu sudah ketagihan.”

Betapa senang aku mendengarnya. Dengan begini aku bisa puas berhubungan seks dengan Bu Fatimah tanpa takut dia hamil. Sore itu kami melakukannya berulang-ulang di kamar tidur, sampai jam sembilan malam aku pamit pulang sambil berjanji akan datang lagi.

Sejak saat itu aku sering melakukan hubungan badan dengan Bu Fatimah dan anaknya Aisyah secara bergantian. Keduanya semakin liar dan binal. Bu Fatimah dan Aisyah selalu minta di entot berulang kali, bahkan sering mereka yang memulai dengan merayu di ruang tamu atau dapur sambil masih berhijab. Bu Fatimah mengatakan bahwa hubungan denganku sebatas rekreasi dan pemuasan kebutuhan nafsu. Karena ia tidak ingin terikat apa-apa denganku. Lagi pula dia tahu anaknya Aisyah sangat mencintaiku. Dia tidak mau mengambil kebahagiaan anaknya. Tak lama kemudian Bu Fatimah resmi bercerai dengan suaminya karena suaminya lebih peduli dengan istri tuanya. Bu Fatimah benar-benar hidup sendirian. Aku pun akhirnya melamar Aisyah untuk kujadikan istri. Setelah itu dengan alasan untuk menemani istriku, aku minta Bu Fatimah untuk tinggal serumah bersama kami di Surabaya. Padahal ini akal-akalan aku dan Bu Fatimah agar bisa lebih sering berhubungan seks. Karena biarpun serumah aku bisa berselingkuh dengan Bu Fatimah. Biasanya kami melakukan hubungan saat istriku Aisyah belanja ke pasar atau pada saat malam ketika ia tidur. Bahkan pernah kami melakukannya ketika istriku ada di rumah.

Waktu itu Aisyah sedang menyetrika di ruang depan sambil menonton TV dan mengaji pelan. Bu Fatimah di dapur sedang mencuci piring, masih mengenakan hijab dan gamis longgar. Aku yang kebetulan hendak ke kamar mandi di dekat dapur, terangsang melihat Bu Fatimah yang hanya mengenakan gamis yang sudah dibuka sedikit. Tubuhnya yang seksi berbayang di balik kain tersebut di dapur. Aku langsung menghampiri dan mencium bibirnya kuat di dapur. Bu Fatimah yang malamnya belum mendapat jatah dariku langsung membalas dengan penuh nafsu juga. Kemudian bagian atas dasternya dibuka sedikit dan dia menurunkan BH-nya sehingga buah dadanya yang montok muncul keluar, hijabnya tetap terpasang rapi. Aku pun mengulumnya dengan penuh nafsu sambil berbisik, “Bu haus kontol lagi ya?” Bu Fatimah berpegangan pada pinggir bak cuci piring. Tanganku mengelus-elus pahanya. Cuma sekitar lima menit kami melakukan foreplay di dapur. Aku langsung melorotkan sedikit celanaku sehingga penisku bisa keluar dengan leluasa. Bu Fatimah menyingkap bagian bawah dasternya dan menggeser sedikit bagian tengah celana dalamnya sehingga terlihatlah lubang vaginanya. Tanpa menanggalkan pakaian, kami melakukannya sambil berdiri di dapur, hijabnya tetap dipakai. Tentu saja karena dilakukan dengan khawatir dan terburu-buru, maka hubungan seks itu berlangsung cepat juga. Hanya sekitar sepuluh menit. Setelah itu aku langsung ke ruang depan menemani istriku Aisyah, seolah-olah tak terjadi apa-apa, sementara Bu Fatimah membersihkan diri dengan senyum puas sambil berbisik, “Besok entot iBu lagi ya Reza… ”

Kini, setelah bertahun-tahun, baik Aisyah maupun Bu Fatimah secara terbuka di depanku mengakui keinginan mereka yang semakin liar. Suatu malam, setelah makan malam di ruang makan, keduanya mendekatiku di ruang tamu dengan hijab rapi dan mata penuh nafsu. Aisyah berkata pelan sambil menggesek pahanya sendiri, “Mas Reza… malam ini Aisyah dan iBu mau bareng… entot kami berdua sekaligus ya Mas… kami sudah basah banget dari tadi.” Bu Fatimah menambahkan sambil mencium leherku, “Iya Reza… iBu dan Aisyah mau di entot bersamaan… kami ketagihan kontol kamu… ayo sekarang di kamar utama.” Aku tersenyum puas dan langsung mengajak mereka ke kamar tidur utama yang luas.

Di kamar tidur, lampu temaram menyinari tempat tidur king size. Aku telanjang bulat di tengah kasur sementara Bu Fatimah dan Aisyah masih berhijab rapi, hanya gamis dan daster mereka yang sudah tersingkap. Aku tarik Aisyah ke pangkuanku dulu. Dia duduk di atas penisku yang sudah tegang, vaginanya yang sempit langsung menelan seluruh batangku dalam satu kali ayunan. “Aghhh… Mas… besar sekali… enak banget…” desah Aisyah sambil mulai goyang pinggulnya naik turun dengan cepat, hijabnya bergoyang mengikuti gerakan. Bu Fatimah tidak mau diam, dia naik ke atas wajahku dan dudukkan vaginanya yang basah di mulutku. Lidahku langsung menjilat klitorisnya dalam-dalam sambil tanganku meremas buah dadanya yang montok. “Lidah Reza enak sekali… jilat lebih dalam iBu… iBu mau keluar!” erang Bu Fatimah sambil menggoyang pinggulnya di wajahku.

Kami berganti posisi berkali-kali dengan penuh nafsu. Aku berdiri di tepi tempat tidur, Aisyah berlutut di depanku dan menghisap penisku dengan rakus sambil Bu Fatimah berdiri di belakangku meremas buah dadaku. Kemudian aku dorong Aisyah telentang di

Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)

Beri nilai untuk cerita ini: