⬅ Kembali ke Beranda

ku geprek tetangga ku (Bagian 6)

kasur, entot vaginanya dengan cepat sambil Bu Fatimah duduk di wajah Aisyah dan Aisyah menjilat vaginanya. Desahan mereka saling bercampur memenuhi kamar. “Entot Aisyah lebih cepat Mas… vaginaku sudah banjir!” pinta Aisyah. Bu Fatimah ikut meracau, “Reza… iBu mau kontol kamu juga… gantian ya…”

Aku tarik Bu Fatimah ke pangkuanku, penisku masuk ke vaginanya yang longgar tapi panas dalam satu hantaman. Aisyah naik ke belakang Bu Fatimah dan meremas buah dadanya sambil mencium leher ibunya. Aku entot Bu Fatimah dengan kuat, ceplak ceplak ceplak terdengar keras. “Aghhh… enak Reza… tusuk memek iBu dalam-dalam… iBu mau orgasme lagi!” jerit Bu Fatimah. Aisyah tidak sabar, dia turun dan ikut menjilat klitoris Bu Fatimah sambil tangannya mengocok batang penisku yang keluar masuk dari vagina ibunya. Sensasinya luar biasa. Aku hampir tidak tahan.

Pertama kali aku keluar di dalam vagina Bu Fatimah. “Ahhhhh… isi memek iBu dengan pejuhmu… panas sekali!” teriak Bu Fatimah saat cairan putih kentalku memenuhi vaginanya sampai meluber keluar. Aku cabut penisku dan langsung Aisyah menghisapnya bersih, menelan sisa mani sambil mendesah, “Enak Mas… Aisyah mau lagi… entot Aisyah sekarang!”



Kami lanjut ronde kedua. Kali ini aku suruh mereka berdua nungging di tepi tempat tidur, pantat mereka berdempetan. Aku entot Aisyah dari belakang dulu, lalu ganti ke Bu Fatimah, bergantian cepat. Mereka saling berciuman dan meremas buah dada satu sama lain. “Mas… gantian lagi… Aisyah mau kontol Mas di memeku… entot keras-keras!” pinta Aisyah. Bu Fatimah ikut, “iBu juga Reza… isi memek iBu lagi… iBu haus peju kamu!” Aku percepat gerakan, tanganku meremas pantat mereka bergantian. Akhirnya aku keluar di muka mereka berdua. Aku tarik penisku dan muncratkan air mani panas ke wajah Aisyah dan Bu Fatimah yang masih berhijab. “Ahhh… panas Mas… mani Mas banyak sekali di muka Aisyah…” desah Aisyah sambil menjilat mani yang menetes ke bibirnya. Bu Fatimah tersenyum puas, “iBu suka… muka iBu penuh mani Reza… enak sekali rasanya.”



Ronde ketiga kami lakukan di tengah kasur. Aku telentang, Aisyah naik ke atas penisku dan goyang pinggulnya liar, sementara Bu Fatimah duduk di wajahku lagi. Mereka berdua berpegangan tangan dan saling mencium di atas tubuhku. Desahan mereka semakin keras dan tak karuan. “Goyang lebih cepat Aisy… vaginamu ngisap kontol Mas enak banget!” kataku di sela jilatan. Aisyah menjawab sambil terengah, “Mas… Aisyah mau keluar lagi… entot Aisyah sampai pagi ya Mas!” Bu Fatimah meracau, “Lidah Reza… iBu mau keluar di mulut… jangan berhenti!”



Aku keluar ronde ini di mulut Aisyah. Saat dia orgasme hebat, aku tarik penisku dan masukkan ke mulutnya. “Minum pejuj Mas semuanya ya Aisy…” Aisyah menelan dengan rakus sambil matanya memejam nikmat. Bu Fatimah langsung membersihkan sisa mani di batang penisku dengan mulutnya. “iBu masih mau lagi Reza… entot iBu dan Aisyah sekali lagi sebelum tidur…”



Kami lanjut ronde keempat dan kelima sampai dini hari. Setiap ronde mereka berdua semakin liar, selalu meminta “entot lagi”, “isi memek kami”, “keluar di muka lagi Mas”. Mani ku muncrat berkali-kali: di dalam vagina Aisyah, di dalam vagina Bu Fatimah, di mulut mereka bergantian, dan di wajah mereka yang masih berhijab rapi. Kamar penuh aroma sex dan desahan panjang. Mereka berdua memelukku erat di tengah kasur setelah ronde terakhir, tubuh mereka basah keringat dan mani. “Reza… kami berdua mau di entot seperti ini setiap malam ya…” bisik Bu Fatimah. Aisyah menambahkan sambil mencium dadaku, “Iya Mas… Aisyah dan iBu ketagihan… entot kami berdua lagi besok pagi…”



Aku tersenyum puas, mengetahui bahwa kedua perempuan solehah ini kini sepenuhnya milikku dalam nafsu yang tak pernah padam. Kisah kami berlanjut dengan seks yang semakin sering dan liar di setiap sudut rumah di Surabaya, di balik kehidupan yang tampak biasa dari luar.

Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)

Beri nilai untuk cerita ini: