⬅ Kembali ke Beranda

Aisyah sekertaris solehah (Bagian 1)

Cover Cerita
Aku sekarang berumur 27 tahun dan bekerja di perusahaan papaku yang merupakan pendiri grup perusahaan besar di kawasan Kuningan, Jakarta. Sebagai “putera mahkota”, semua karyawan segan padaku, termasuk para direktur dan manager profesional. Mereka yang kerja keras setiap hari, aku cuma santai-santai kasih instruksi sana-sini. Di kantor, aku terkenal sebagai playboy kelas atas—ganteng, badan atletis, lulusan luar negeri, dan duit melimpah. Cewek cantik mana pun gampang aku ajak tidur dan aku entot habis-habisan.



Kemarin siang, pas lagi jalan-jalan di mall waktu kerja, aku ketemu dua ABG SMA pakai seragam. Setelah aku traktir makan dan shopping, langsung aku bawa ke hotel sebelah mall. Aku entot mereka berdua sampai jerit-jerit. Tubuh muda mereka sempit banget, memeknya masih rapet dan licin, mulut mungil mereka susah muat kontolku yang besar dan tebal. Tapi setelah aku paksa, mereka akhirnya ngulum kontolku dalam-dalam sambil merintih minta ampun, air liur mereka menetes-netes ke dagu.



Hari ini aku masuk kantor agak siang. Mata masih ngantuk gara-gara semalam habis party. Begitu masuk ruangan, suara lembut dan anggun menyapaku.



“Selamat pagi, Pak Reza…”



Aku menoleh. Itu dia—sekretarisku yang baru direkrut papaku dua minggu lalu. Namanya Aisyah. Usia 24 tahun, gadis anggun yang berjilbab rapi warna pastel lembut, wajahnya manis berwibawa, kulit putih bersih, tubuh tinggi langsing proporsional dengan dada montok yang selalu tertutup kemeja putih longgar dan rok panjang hitam yang sopan. Dia terlihat sangat elegan, berilmu, dan penuh wibawa.



“Pagi, Aisyah,” jawabku sambil tersenyum lebar.



Di ruanganku, aku nggak bisa konsentrasi kerja. Pikiranku cuma ke Aisyah—gadis berjilbab anggun itu. Akhirnya aku telepon dia lewat interkom.



“Aisyah, sore nanti sebelum pulang, masuk ke ruangan saya ya. Ada yang mau dibahas penting.”



Jam 17.30 tepat, ketukan pelan terdengar di pintu kayu ruanganku.



“Masuk.”



“Selamat sore, Pak Reza,” sapanya sopan sambil menunduk sedikit, jilbabnya rapi menutupi dada montoknya. Dia duduk di kursi depan meja kerjaku, tangan terlipat rapi di pangkuan, rok panjangnya sedikit naik memperlihatkan betis putih mulus.



“Ada apa, Pak?” tanyanya pelan, suaranya lembut dan penuh wibawa.



Aku langsung mainkan siasat lama. “Begini, Aisyah… performance perusahaan lagi kurang bagus akhir-akhir ini. Kita harus rasionalisasi karyawan.”



Wajahnya langsung pucat. “Saya… termasuk yang di-PHK, Pak?”



“Iya. Kamu bisa urus pesangon besok pagi. Maaf ya.”



Air mata langsung menggenang di mata indahnya yang berwibawa. “Tapi Pak… saya nggak salah apa-apa. Saya harus bantu ibu saya yang sakit berat, operasi mahal, Pak. Tolong… jangan pecat saya… saya butuh pekerjaan ini…”



Aku bangkit dari kursi, duduk di sebelahnya di sofa panjang ruangan kerja yang empuk, dan pura-pura kasih tissue sambil mengelus pundaknya yang tertutup jilbab.



“Sudah jangan nangis, Aisyah. Saya bisa bantu kamu… tapi kamu juga harus bantu saya.”



“Ba… bantu apa, Pak?” tanyanya gemetar, suaranya mulai bergetar.



Aku langsung meraba paha mulusnya lewat rok tipis itu dengan tangan kananku, jari-jariku naik pelan ke atas sambil meremas daging pahanya yang kenyal. Lalu aku mendekat dan mencium pipinya yang masih basah air mata, bibirku mengecup lembut kulitnya yang harum.



“Jangan, Pak! Saya… saya sudah bertunangan, Pak. Saya nggak bisa kayak gini…”



“Kalau nggak mau, ya sudah, pulang aja besok kamu di-PHK,” kataku dingin sambil mundur sedikit, tapi tanganku masih di pahanya.



Aisyah diam beberapa detik, tangannya meremas tissue sampai kusut. Lalu tiba-tiba dia meraih lenganku dengan tangan gemetar. “Tunggu, Pak… tolong jangan pecat saya. Saya… saya mau bantu Pak Reza… apa pun yang Pak Reza mau…”



Aku tersenyum dalam hati. Langsung aku tarik dia ke pangkuanku di sofa, tanganku cepat membuka kancing kemeja putihnya satu per satu dari atas. Jilbabnya masih rapi menutupi rambutnya, tapi dadanya yang montok sudah naik-turun cepat karena napasnya memburu. “Bagus, Aisyah… sekarang buka rok kamu pelan-pelan, biar aku lihat paha dan memekmu.”



“Pak… di sini? Di sofa kantor Bapak?” bisiknya malu, tapi tangannya sudah menurunkan resleting rok panjangnya sendiri, rok itu melorot ke lantai memperlihatkan celana dalam hitam tipis yang sudah basah di bagian selangkangan.



Aku dorong dia duduk di sofa, lalu berdiri di depannya sambil membuka sabuk dan celana kerja. Kontolku yang sudah tegang keras dan berurat langsung meloncat keluar, besar, tebal, panjang hampir 20 cm, ujungnya sudah basah oleh precum yang bening.



Aisyah melotot lebar, matanya terkunci ke kontolku. “Wah… kontol Bapak… besar sekali, Pak… lebih besar dan tebal dari yang pernah aku bayangkan… ujungnya sudah basah gini… aku takut tapi… aku mau coba…”



“Hisap sekarang, lonte kecil. Jangan banyak bacot, buka mulutmu lebar-lebar dan ngulum kontol bos kamu ini,” perintahku kasar sambil meraih jilbabnya yang anggun sebagai pegangan.



Awalnya dia ragu, tapi begitu ujung kontolku yang panas dan licin menyentuh bibir tipisnya yang merah muda, matanya langsung berubah penuh nafsu. “Iya, Pak… Aisyah mau… Aisyah mau ngulum kontol besar Bapak yang gede ini… enak banget baunya, Pak… Aisyah langsung basah memeknya…”



Dia langsung membuka mulut lebar, lidahnya menjilat kepala kontolku pelan dari bawah ke atas, mengecap precum yang keluar. “Enak, Pak… kontol Bapak enak banget rasanya… asin dan manis… Aisyah suka… Aisyah mau isap lebih dalam… tolong dorong kontol Bapak ke tenggorokan Aisyah…”



Aku pegang jilbabnya erat, lalu dorong pinggulku maju sehingga kontolku masuk setengah ke mulutnya yang hangat dan basah. “Isap lebih dalam, jalang! Hisap kontol bos kamu kayak lonte profesional! Gluck-gluck… ya gitu… hisap kuat-kuat sambil mainin lidahmu di kepalanya… bagus, lonte… kamu memang sudah lahir buat ngisap kontol gede!”



“Uhh… gluck… gluck… gluck…” Aisyah mengerang sambil ngulum sekuat tenaga, air liurnya menetes-netes ke dagunya dan ke jilbabnya yang tadinya rapi. Kepalanya maju mundur sendiri, mulutnya mengisap kontolku sampai pipinya cekung. “Pak… Aisyah suka banget… kontol Bapak bikin mulut Aisyah penuh… memek Aisyah langsung banjir… Aisyah mau di entot… tolong entot memek Aisyah yang basah ini, Pak… Aisyah minta kontol Bapak ngebor memeknya dalam-dalam…”



Aku tarik dia berdiri sebentar, buka semua bajunya kecuali jilbab dan sepatu high heels. Dadanya yang besar dan kencang langsung mencuat bebas, putingnya sudah keras merah muda berdiri. Rok dan celana dalamnya sudah basah kuyup, cairan memeknya menetes ke paha dalamnya. Aku duduk di sofa empuk itu, tarik dia naik ke pangkuanku, kontolku berdiri tegak di antara kami.



“Naik, Aisyah. Pegang kontolku sendiri, masukin pelan-pelan ke memekmu yang sempit itu. Aku mau lihat wajahmu pas kontol gede ini nge-stretch memekmu.”



Aisyah menggigit bibir bawahnya, wajahnya yang tadinya berwibawa sekarang penuh nafsu liar. Dia pegang kontolku yang licin dengan tangan kanannya, ujungnya digosok-gosok ke bibir memeknya yang sudah

Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)

Beri nilai untuk cerita ini: