⬅ Kembali ke Beranda
ku geprek tetangga ku
(Bagian 1)
Namaku Reza. Kini aku berumur 29 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya sebagai staf pemasaran. Aku memiliki kisah yang sangat menarik dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kisah ini bermula lima tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 24 tahun. Saat itu nafsu seksku mulai memuncak setiap hari, dan aku merasa tubuhku selalu panas meski aku sudah rutin berolahraga di gym dekat kantor.
Aku memiliki tetangga seorang wanita berhijab yang solehah dan cantik. Saat itu dia berumur 38 tahun. Aku biasa memanggilnya Bu Fatimah. Karena dia orang Jawa asli yang taat beribadah, selalu mengenakan hijab panjang yang rapi dan baju gamis longgar yang menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna. Bu Fatimah adalah istri kedua dari suaminya yang sekarang. Sebelumnya ia sudah pernah menikah dan memiliki anak perempuan, yang biasa kupanggil Aisyah. Aku dan Bu Fatimah bertetangga sangat akrab sejak lama. Sejak aku sekolah dasar, keluarga Bu Fatimah dekat dengan keluargaku. Kedua orang tuaku yang sudah tua dianggap sebagai orang tua oleh keluarga Bu Fatimah. Hubungan kami tetap akrab meski kedua orang tuaku telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Aku sebenarnya sudah nafsu melihat Bu Fatimah sejak SMP. Meski selalu berhijab dan berpenampilan solehah, tubuhnya tetap terlihat seksi dan kencang di balik gamisnya. Buah dadanya besar dan montok, pantatnya bulat sempurna yang kadang terlihat saat ia membungkuk membersihkan halaman rumah di ruang tamu. Sering kali jika aku bermain ke rumahnya setelah salat Magrib, Bu Fatimah hanya menggunakan daster tipis di rumah atau, dengan cuek setelah mandi, hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya sambil melenggok di depanku di ruang tamu. Aroma sabun mandinya yang harum selalu membuatku langsung tegang. Aku menjadi terangsang dan pulangnya langsung beronani sambil membayangkan tubuhnya yang solehah itu. Aku tidak berani berbuat lebih jauh karena hubungan yang sudah terlalu akrab itu. Apalagi Bu Fatimah melihatku yang masih SMP hanya menganggapku sebagai adik kecilnya yang polos.
Tapi ketika aku semakin dewasa, segalanya mulai berubah. Tepatnya ketika usiaku 24 tahun. Aku sebenarnya pria yang tampan dan menarik, dengan tubuh atletis karena rutin olahraga. Tapi aku agak malas pacaran. Sementara nafsu seksku yang tinggi biasa kusalurkan melalui onani. Soalnya aku takut berhubungan seks dengan pelacur. Selain karena bahaya penyakit, aku malas mengeluarkan uang. Selama ini fantasi onaniku selain bintang film dewasa adalah Bu Fatimah dan anaknya Aisyah, yang kini sudah beranjak dewasa. Umurnya 18 tahun. Kulitnya putih mulus, tubuhnya benar-benar proporsional meskipun pantat dan buah dadanya tidak terlalu besar. Wajahnya cantik seperti aktris Korea yang lembut, dan ia juga selalu mengenakan hijab yang rapi seperti ibunya—seorang gadis solehah yang rajin salat dan mengaji setiap hari.
Suatu sore yang sangat panas di Surabaya, udara lembab dan suhu mencapai 34 derajat, aku sedang duduk sendirian di ruang tamu rumahku yang sepi. AC menyala pelan, tapi tetap terasa gerah. Tiba-tiba aku mendapatkan telepon dari seseorang yang ingin berbicara dengan Aisyah. Rumah Bu Fatimah tidak ada telepon jadi mereka sering menumpang di rumahku. Aku segera bergegas ke rumahnya yang hanya berjarak dua rumah. Rupanya Aisyah sedang mandi setelah pulang dari mengaji di masjid dekat rumah. Karena teleponnya penting dan ditunggu, maka dia bergegas berganti pakaian di kamar mandi rumahnya. Aisyah hanya menggunakan daster tipis yang membentuk seluruh tubuhnya yang seksi, hijabnya masih terpasang rapi meski basah sedikit di bagian tepi. Aisyah bergegas menuju ke rumahku sementara aku mengikuti dari belakang di lorong antar rumah. Pinggulnya yang bergoyang-goyang di balik daster itu membuat penisku langsung setengah tegang.
Sampai di ruang tamu rumahku, Aisyah duduk menerima telepon dengan posisi duduk yang menantang di sofa tamu yang empuk berwarna cokelat. Bagian bawah dasternya tersingkap sedikit karena gerakannya, sehingga terlihat jelas pahanya yang putih mulus dan halus. Aku duduk di sofa depannya dan mataku menjelajahi seluruh tubuhnya tanpa malu. Aku baru tahu ternyata Aisyah tidak sempat memakai BH di balik daster tipis itu. Kulihat putingnya yang kecil dan kecokelatan tercetak jelas di bagian dada dasternya. Aisyah menyadari bahwa aku sedang mengamatinya dengan nafsu. Dia tersipu malu, wajahnya memerah di balik hijabnya, dan berusaha memperbaiki posisi duduknya sambil berkata pelan dengan suara gemetar, “Mas Reza… mengapa melihat Aisyah seperti itu? Aisyah sedang telepon… ini tidak sopan sekali.” Namun dasternya yang pendek membuat posisi duduknya tetap saja merangsang. Tak berapa lama dia selesai menelepon. Dia berdiri dan siap-siap untuk pamit pulang dengan suara lembut khas gadis solehah, “Terima kasih ya Mas, Aisyah pulang dulu.”
Aku langsung memegang tangannya dengan lembut tapi tegas di ruang tamu. “Mau ke mana? Sini dulu, temani aku mengobrol sebentar, Aisyah. Kan jarang kita mengobrol berdua seperti ini di ruang tamu yang sepi.”
“Aduh… Aisyah mau pergi nanti jam satu ke Darmo. Sudah janjian dengan teman-teman dari pengajian.”
“Ya sudah, nanti saja siap-siapnya. Kita mengobrol dulu… aku kangen mengobrol dengan kamu yang solehah ini.”
“Aduh… Mas Reza… Aisyah harus siap-siap, takut terlambat.”
“Iya deh. Sekarang Aisyah sombong ya? Tidak mau mengobrol dengan aku lagi padahal dulu suka main bareng.”
“Kok Mas Reza seperti itu? Memang mau mengobrol apa?”
Aisyah akhirnya duduk di sebelahku dengan ragu di sofa ruang tamu. Harum tubuhnya habis mandi semakin merangsangku—campuran sabun colek dan parfum yang lembut. “Aisyah mau ke Darmo dengan siapa? Dengan pacar ya?” tanyaku sambil tersenyum nakal.
“Ah tidak kok. Aisyah tidak punya pacar. Aisyah kan fokus belajar dan mengaji, Mas.”
“Kok tidak punya padahal Aisyah cantik sekalii, solehah lagi.”
Dia terlihat tersipu semakin dalam, pipinya merah. Tanganku mulai membelai perlahan rambutnya yang terlihat dari bawah hijab, kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Dia masih diam, matanya tertunduk malu. Aku pun memberanikan diri mengecup bibirnya pelan di ruang tamu. Dia nampak canggung menerima ciumanku, tubuhnya agak menegang. “Mas Reza… ini dosa… Aisyah takut sekali,” bisiknya lirih, tapi aku makin berani. Tanganku merayap di pahanya yang mulus di balik daster. Aisyah pun mulai membalas ciumanku bertubi-tubi meski ragu. Bibir kami saling berpagutan semakin panas di sofa. Perlahan ku singkap bagian atas dasternya dan dengan leluasa tangan kiriku mengelus buah dadanya yang bulat dan padat. Bibir kami masih saling bertautan. Aisyah sepertinya mulai terhanyut meski matanya masih penuh dosa. Aku mulai menciumi bagian wajah yang lainnya—pipi, dagu, lehernya
Rating Cerita: ⭐ 5 / 5 (1 Suara)