⬅ Kembali ke Beranda
Janda sombong
(Bagian 1)
Malam Senin, tepat pukul 00.15, lantai 3 ruko Nadia Collection di Citraland Surabaya. Hanya ada kami berdua. Ruangan kerja saya kedap suara total. Lampu neon putih dingin menyinari meja kerja yang berantakan dokumen penjualan. Bau parfum halal Bu Nadia yang manis bercampur keringat ringan memenuhi udara.
Bu Nadia berdiri di depan meja saya dengan tangan di pinggang. Gamis putih katun tipisnya yang sedikit transparan menempel ketat di lekuk tubuh sintalnya. Hijab putih rapi menutupi rambut lurus sebahu. Dari balik kain tipis itu, tonjolan payudaranya yang kecil tapi padat (32A) dan bongkahan pantat bulat sempurna terlihat jelas. Pinggangnya ramping, perut rata karena senam aerobik rutin, dan celana dalam putih berenda sudah agak basah di bagian depan meski dia belum sadar.
“Rian… tumben banget kamu lama banget ngerjain laporan harian ini. Gak becus banget sih kerjanya, huu…!” omelnya dengan nada tinggi, sombong, khas majikan yang meremehkan.
Saya menatapnya dari kursi, senyum tipis. Dalam hati: *Sebentar lagi kamu gak bakal sombong lagi, Bu Janda. Malam ini kamu jadi budak kontolku.*
“Sabar dong, Bu… ini laporan keuangan, gak bisa buru-buru,” jawab saya datar sambil memandang payudaranya yang naik-turun karena napas.
Bu Nadia menyipit. “Kamu kok memandang saya seperti itu, Rian? Kayak orang mau memperkosa saya saja!”
Saya berdiri perlahan. Tinggi 175 cm, otot lengan dan dada menonjol karena fitness, kontol saya sudah setengah tegang di dalam celana. Saya mendekat sampai tubuhnya mundur dan menabrak dinding.
“Memangnya kenapa kalau saya mau memperkosa Bu Nadia sekarang? Siapa yang bakal tahu? Kita berdua saja di lantai 3 ini. Bangunan ini kedap suara total. Kakakmu juga lagi di luar kota.”
Wajahnya langsung pucat pasi. “Rian… jangan macam-macam ya. Saya akan teriak kalau kamu coba-coba!”
Saya tertawa pelan, tangan kanan saya sudah mengeluarkan belati kecil dari laci meja. Ujungnya saya tempelkan tepat di leher jenjangnya yang masih tertutup hijab putih.
“Teriak saja, Bu. Siapa yang bakal dengar? Malah semakin seru. Semua yang Bu Nadia lakukan cuma buang-buang tenaga. Lebih baik nikmati apa yang bakal saya kasih malam ini.”
Mata Bu Nadia berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar hebat. “Rian… tolong pikirkan lagi. Saya tidak akan lapor polisi. Saya kasih uang berapa pun yang kamu minta. Berapa pun! Gaji kamu saya naikkan dua kali lipat mulai bulan depan… bonus besar… mobil… apa saja!”
Saya tekan belati sedikit lebih dalam, cukup untuk meninggalkan garis merah tipis di kulit putihnya. Suara saya dingin dan datar.
“Hahaha… masih berani sok kaya ya, Bu Janda? Setelah semua kelakuan ibu yang kikir dan merendahkan karyawan kecil seperti saya? Uang ibu sudah tidak berguna sekarang. Sekarang jawab: mau nurut atau tidak? Kalau tidak, saya tusuk lehermu, buang mayatmu di kali, dan besok pagi semua orang bilang Bu Nadia hilang misterius.”
Air mata mengalir deras di pipinya yang mulus. Bibir merah mudanya bergetar. “Oke… saya ikutin apa pun perintah kamu… asal jangan sakiti saya… tolong…”
“Bagus.” Saya tarik belati sedikit tapi tetap di tangan. “Sekarang buka gamis kamu satu persatu. Sisakan hijab, BH, dan celana dalam saja dulu. Cepat!”
Dia ragu-ragu, tangan gemetar di kancing pertama. Saya tampar pipi kanannya keras. **PLAAAK!**
“Goblok! Cepat buka atau saya tusuk lehermu sekarang juga, dasar janda sombong!”
“Rian… ampun…” tangisnya pecah. Dengan tangan gemetar dia membuka kancing demi kancing. Gamis putih tipis itu meluncur pelan ke lantai, memperlihatkan tubuh putih mulusnya yang sintal. BH berenda putih menyangga payudara kecil padat yang ujungnya sudah mengeras karena takut (atau nafsu?). Celana dalam putih berenda sudah basah di bagian selangkangan, membentuk garis lembab jelas di bibir memeknya yang gembung. Pantatnya yang bulat sempurna menggoda, pinggang ramping, paha mulus.
Kontol saya langsung ngaceng keras, menonjol di celana dalam.
Saya buka kemeja dan celana saya, tinggal celana dalam hitam yang ketat. “Sekarang merangkak ke sini, dasar janda murahan!”
Bu Nadia menangis tersedu-sedu. “Rian… saya mohon… ampuni saya. Saya kasih berapa pun uangnya… tolong lepaskan saya… saya akan kasih gaji bulanan seumur hidup…”
Saya tampar pipi kirinya lagi, lebih keras. **PLAAAK!** “Diam! Sekali lagi sebut uang, saya tampar sampai bengkak dan hitam! Merangkak sekarang, anjing!”
Dia akhirnya merangkak seperti anjing di lantai keramik dingin, tangisnya pecah. Saya duduk di kursi, kaki dibuka lebar. “Buka celana dalamku pakai mulutmu. Jangan pakai tangan, tolol!”
Bu Nadia mencoba pakai tangan. Saya tampar lagi. “Goblok! Pakai mulut kataku!”
Dengan bibir sensual merah mudanya, dia menggigit pinggiran celana dalam saya dan menariknya turun perlahan. Begitu kontol saya yang tebal, panjang, berurat, dan sudah mengkilap dengan cairan pra-ejakulasi melompat keluar, ujungnya langsung menampar kening hijabnya.
“Masukkan kontol ini ke mulutmu dan sepong sekuat tenaga, Bu Janda Kepanasan. Kamu pasti sudah lama nggak disetubuhi sejak suamimu mati, kan? Dua tahun haus kontol, sekarang dapat kontol karyawan rendahan.”
Bu Nadia menangis tapi membuka mulut mungilnya. Saya sodokkan kontol langsung ke tenggorokannya dalam-dalam. “Aaaarkh…!” dia tersedak hebat, air liur muncrat dari sudut bibir, mata berair.
“Emut, hisap, jilat! Kalau tidak, saya pukul kamu!” Saya pegang hijabnya erat dan dorong-dorong pinggul, kontol saya masuk-keluar tenggorokannya. Suara **gluk-gluk-gluk** memenuhi ruangan. Air liurnya membasahi dagu, menetes ke payudaranya yang kecil.
Lama-kelamaan dia mulai menjilat batang berurat saya dengan lidah panas, mengisap kepala kontol dengan kuat, meski masih tersedak tiap kali saya sodok dalam. “Enak kan? Mulut janda berhijab ini memang cocok buat kontol besar.”
Saya remas payudaranya yang kencang dari balik BH, lalu buka kaitannya dengan satu tangan. BH itu saya pakai untuk mengikat kedua tangannya ke belakang punggung erat-erat. Payudaranya yang kecil tapi padat sekarang bebas, puting cokelat kecil sudah keras seperti kacang.
“Dasar pelacur berhijab! Tadi sok suci, sekarang mulutmu penuh kontol karyawanmu sendiri. Enak kan?”
Bu Nadia hanya bisa mengangguk sambil terus mengisap, air mata dan air liur bercampur di wajahnya.
Saya tarik kontol keluar, benang liur panjang menghubungkan bibirnya dengan ujung kontol saya. “Sekarang posisi 69. Kamu di atas, mulutmu tetap di kontolku.”
Dia naik ke meja kerja, mengangkangi wajah saya sambil tangannya masih terikat di belakang. Saya tarik celana dalamnya ke samping, memeknya yang gembung, berbulu hitam lebat, dan bibir tebal langsung terbuka di depan muka saya. Cairan bening sudah banjir deras, mengalir ke paha dalamnya. Bau memek janda yang sudah lama tidak disentuh langsung menyengat — manis-asam, menggoda.
Saya jilat dari luar, lidah lebar menjilat seluruh bibir memeknya, lalu hisap itilnya yang membengkak keras. “Hhhmmppphh…!” Bu Nadia mendesah panjang di antara isapan kontolnya. Tubuhnya bergoyang.
Saya dorong lidah masuk ke lubang
Rating Cerita: ⭐ 0 / 5 (0 Suara)